Investor global borong obligasi AS, nilainya tembus US$103 miliar
Jumat, 19 Juni 2026
JAKARTA - Investor asing mencatat pembelian bersih surat berharga jangka panjang Amerika Serikat senilai US$103 miliar pada April 2026, seiring peningkatan kepemilikan obligasi pemerintah AS (Treasury) sebesar US$4 miliar.
Seperti dikutip Reuters, data tersebut tercantum dalam laporan bulanan Treasury International Capital (TIC) yang dirilis Departemen Keuangan AS pada Kamis.
Jepang mempertahankan posisinya sebagai pemegang treasury terbesar dengan kepemilikan mencapai US$1,21 triliun pada April, naik dari US$1,19 triliun pada bulan sebelumnya. Inggris juga menambah kepemilikan menjadi US$938 miliar dari US$927 miliar, sementara China mengurangi kepemilikannya menjadi US$651 miliar dari US$652 miliar.
Kenaikan tersebut mendorong total kepemilikan Treasury oleh investor asing menjadi US$9,35 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Maret, namun masih berada di bawah rekor US$9,49 triliun yang tercatat pada Februari.
Pergerakan kepemilikan obligasi AS menjadi sorotan pasar di tengah perhatian investor terhadap permintaan global atas utang pemerintah AS. Faktor tersebut dinilai penting seiring upaya Federal Reserve menekan inflasi dan berlanjutnya reli saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI).
Pada hari yang sama, lelang Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) tenor lima tahun mendapat respons positif dari investor. Minat tersebut antara lain didukung kenaikan imbal hasil riil (real rates) yang disesuaikan dengan inflasi dalam beberapa pekan terakhir.
Departemen Keuangan AS melaporkan total arus modal asing bersih (net TIC inflow) mencapai US$26,1 miliar pada April. Arus masuk dari institusi resmi asing tercatat sebesar US$49,2 miliar, sementara investor swasta asing membukukan arus keluar bersih sebesar US$23,1 miliar.
Secara keseluruhan, investor asing menambah kepemilikan surat berharga jangka panjang AS sebesar US$206 miliar selama April. Dari jumlah tersebut, investor swasta asing menyumbang pembelian bersih US$164,4 miliar, sedangkan institusi resmi asing mencatat pembelian bersih US$41,6 miliar.(DH)