Anwar Ibrahim: Malaysia bayar pakai uang lokal untuk negara mitra
Jumat, 19 Juni 2026
KUALA LUMPUR - Malaysia akan secara serius menjajaki penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dengan negara-negara mitra guna mengurangi risiko gejolak nilai tukar mata uang asing, kata Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim.
Anwar mengatakan Malaysia telah memiliki volume perdagangan yang besar dengan China dan Rusia, sementara India telah menyetujui untuk memulai perdagangan menggunakan mata uangnya sendiri atau melalui skema barter.
Seperti dikutip TheStar, Perdana Menteri yang juga menjabat Menteri Keuangan itu menyoroti keberhasilan skema pembayaran bilateral menggunakan mata uang domestik, khususnya dengan China.
Menurutnya, porsi perdagangan bilateral Malaysia-China yang menggunakan mata uang lokal telah meningkat menjadi sekitar 22–23 persen dari total perdagangan kedua negara, naik dari sekitar 16% beberapa tahun lalu.
"Dalam negosiasi bilateral dengan banyak negara, kami kini mulai menjajaki hal ini dengan sangat serius. India akhirnya juga setuju untuk memulai perdagangan melalui bentuk barter tertentu, jika bukan menggunakan mata uang lokal. Namun opsi utamanya tentu saja mata uang lokal," ujar Anwar pada Kamis saat menjawab pertanyaan Donald Courter, koresponden RT, saluran berita televisi milik pemerintah Rusia.
Sebelumnya, Courter menyinggung upaya sejumlah negara membangun sistem pembayaran alternatif di luar sistem yang didominasi negara-negara Barat dan menanyakan apakah negara-negara ASEAN melakukan langkah serupa.
Malaysia dalam beberapa tahun terakhir aktif memperluas penyelesaian transaksi perdagangan lintas batas menggunakan mata uang lokal guna mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan meminimalkan risiko fluktuasi kurs.
Sejumlah pencapaian penting telah diraih di bawah koordinasi Bank Negara Malaysia, termasuk kerangka kerja bilateral dengan mitra utama seperti China, Indonesia, dan Thailand, serta pembahasan terbaru dengan Rusia.
Pada hari yang sama, Anwar dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, membahas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral saat bertemu di Kazan.
Kedua pemimpin juga mendiskusikan berbagai mekanisme untuk memperluas perdagangan dan investasi menggunakan ringgit Malaysia dan rubel Rusia.
Menjawab pertanyaan mengenai kerja sama energi dengan Rusia, Anwar menegaskan bahwa kesepakatan pasokan energi dengan sejumlah negara, termasuk Rusia, sangat penting bagi kelangsungan ekonomi Malaysia.
Ia menjelaskan bahwa Malaysia kini telah menjadi pengimpor bersih minyak mentah.
"Saya tentu akan mendorong agenda ini dan menjadikannya prioritas," kata Anwar.
Ia menjelaskan bahwa meskipun Malaysia masih memproduksi sekitar 50% kebutuhan minyaknya, negara tersebut mengekspor gas alam cair (LNG) ke China, Korea Selatan, dan Jepang melalui kontrak jangka panjang.
Malaysia juga tengah aktif menjajaki peluang kerja sama energi di berbagai negara Asia Tengah serta Kanada.
Terkait pengembangan hubungan bisnis dengan Rusia, Anwar menilai masih terdapat potensi besar yang belum tergarap, mulai dari kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, teknologi digital, hingga pertanian modern.
"Saya sangat berterima kasih kepada Presiden Putin yang memberikan dukungan penuh terhadap hal ini, termasuk Presiden Tatarstan dalam berbagai diskusi kami untuk memperkuat hubungan bilateral," ujarnya.
Anwar menambahkan bahwa kedua negara kini telah membentuk tim khusus untuk mempercepat realisasi berbagai peluang kerja sama tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa meskipun pernah menghadapi kendala terkait sistem pembayaran dan prosedur akibat berbagai pembatasan internasional, Rusia tidak pernah melanggar perjanjian bisnis maupun perdagangan dengan Malaysia.
Wawancara tersebut dilakukan RT di sela-sela penyelenggaraan KTT Peringatan ASEAN-Rusia di Kazan yang digelar untuk memperingati 35 tahun hubungan antara Rusia dan ASEAN. Anwar saat ini memimpin delegasi Malaysia dalam forum tersebut yang berakhir hari ini. (DK)