Saham STRC anjlok, strategi akumulasi bitcoin Michael Saylor diuji
Jumat, 19 Juni 2026
JAKARTA - Tekanan terhadap saham preferen STRC milik Strategy memunculkan pertanyaan baru mengenai keberlanjutan strategi pendanaan perusahaan untuk terus mengakumulasi Bitcoin. Instrumen yang dirancang untuk diperdagangkan di sekitar level US$100 itu kini merosot ke kisaran US$80-an.
Penurunan tersebut menarik perhatian investor karena STRC merupakan salah satu instrumen utama yang digunakan perusahaan untuk menghimpun dana guna membeli Bitcoin tambahan.
Sorotan terhadap STRC semakin besar setelah Chairman Strategy Michael Saylor mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan (AI) turut digunakan dalam proses perancangan produk tersebut.
"Saat kami mengerjakan STRC, saya mengerjakannya sepenuhnya dengan AI. Saya tidak mungkin bisa melakukannya sendiri. Saya benar-benar duduk dan menggunakan AI, bolak-balik selama berjam-jam," kata Saylor dalam sebuah wawancara, seperti dikutip Finance.yahoo.
Meski mendapat sorotan karena keterlibatan AI, STRC tetap melalui proses penerbitan yang melibatkan bank investasi, penasihat hukum, manajemen perusahaan, serta regulator. AI diyakini digunakan untuk membantu simulasi dan perancangan struktur produk.
STRC merupakan saham preferen dengan skema dividen variabel yang dirancang untuk menjaga harga pasar tetap mendekati US$100. Untuk mencapai tujuan tersebut, Strategy memiliki kewenangan menyesuaikan tingkat dividen setiap bulan.
Namun mekanisme itu kini menghadapi tantangan. Ketika harga saham turun jauh dari target, investor cenderung menuntut imbal hasil yang lebih tinggi agar instrumen kembali menarik.
Konsekuensinya, perusahaan berpotensi harus menaikkan pembayaran dividen kepada pemegang STRC.
Kondisi itu juga berisiko menyulitkan penerbitan STRC baru apabila kepercayaan investor terhadap instrumen tersebut terus melemah.
Selama ini Strategy mengandalkan instrumen seperti STRC untuk memperoleh dana segar tanpa harus menerbitkan terlalu banyak saham biasa. Dana yang dihimpun kemudian digunakan untuk memperbesar kepemilikan Bitcoin.
Jika minat investor terhadap STRC terus menurun, kemampuan perusahaan untuk memperoleh pendanaan baru berpotensi terhambat. Dalam kondisi tersebut, Strategy mungkin harus mencari alternatif pendanaan lain, termasuk menerbitkan saham biasa yang dapat mengencerkan kepemilikan pemegang saham eksisting.
Pilihan lain adalah memperlambat laju pembelian Bitcoin yang selama ini menjadi inti strategi perusahaan.
Hingga saat ini belum terdapat indikasi bahwa Strategy harus menjual cadangan Bitcoin yang dimilikinya akibat tekanan pada STRC. Namun sebagian investor mulai mencermati kemungkinan munculnya tekanan keuangan yang lebih besar apabila harga saham preferen tersebut terus melemah dan biaya dividen meningkat.
Dalam skenario yang lebih ekstrem, pasar mulai mempertimbangkan risiko perusahaan harus melepas sebagian kepemilikan Bitcoin untuk memperkuat posisi keuangan atau memenuhi kewajiban kepada investor.
Skenario tersebut berpotensi mengguncang narasi utama yang selama ini dibangun Michael Saylor, yakni menjadikan akumulasi Bitcoin sebagai fondasi strategi bisnis jangka panjang, bukan sebagai aset yang dijual ketika perusahaan menghadapi tekanan pasar.(DH)