Wall Street hadapi kontrak opsi US$8,3 triliun jatuh tempo serentak

Jumat, 19 Juni 2026

image

WASHINGTON - Wall Street bersiap menghadapi peristiwa besar di pasar keuangan pada Kamis (18/6), waktu Amerika , ketika sekitar US$8,3 triliun kontrak opsi jatuh tempo sekaligus, yang terbesar dalam sejarah. 

Kondisi ini diperkirakan dapat memicu pergerakan pasar yang lebih volatil, karena banyak posisi investor harus disesuaikan dalam waktu singkat, meski tidak disebabkan oleh perubahan ekonomi baru.

Seperti dikutip Investing.com, angka ini naik sekitar 18% dibanding rekor sebelumnya yang mencapai sekitar US$7,1 triliun pada Desember 2025.

Peristiwa ini juga memiliki keunikan karena biasanya “triple witching” terjadi pada Jumat ketiga setiap bulan, namun kali ini dimajukan satu hari lantaran pasar AS akan tutup pada Jumat, 19 Juni, untuk libur federal Juneteenth.

Di pasar keuangan, kontrak berjangka bergerak menguat menjelang pembukaan. 

E-mini S&P 500 naik 0,72% dan E-mini Nasdaq 100 menguat 1,36% menurut Reuters, seiring investor mulai mengimbangi pelemahan tajam pada sesi sebelumnya. 

Pada Rabu, S&P 500 turun 1,21% ke 7.420,10 dan Nasdaq melemah 1,34% ke 26.021,66, setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga di 3,75% namun sembilan pejabat mengisyaratkan kemungkinan setidaknya satu kenaikan suku bunga hingga akhir tahun, menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga sebelumnya. 

ETF iShares Core S&P 500 (IVV) ditutup di US$742,61 dan diperdagangkan di pra-pasar pada US$747,37, naik 0,64%.

Fenomena “quadruple witching”, yakni kedaluwarsa simultan opsi saham, opsi indeks saham, futures indeks saham, dan futures saham tunggal, biasanya memicu lonjakan volume serta volatilitas intraday. 

Namun, skala kali ini jauh lebih besar dari kondisi normal.

Scott Rubner, Kepala Strategi Ekuitas dan Derivatif di Citadel Securities, menyebut dua minggu ke depan sebagai “salah satu periode paling penting secara teknis tahun ini”. 

Ia menekankan bahwa arus dana (flows) akan lebih dominan dibanding faktor fundamental, karena ekspirasi besar ini bertepatan dengan rebalancing dana pensiun akhir kuartal serta penyesuaian posisi investor di paruh pertama tahun.

Menurut Rubner, pasar akan menyerap “kedaluwarsa opsi terbesar dalam sejarah, arus rebalancing pensiun kuartal akhir yang signifikan, dan reset besar posisi investor di berbagai kelompok”. 

Citadel Securities juga memperkirakan ekspirasi ini akan mengurangi secara signifikan open interest dari investor ritel, dana sistematis, hingga dana pensiun menjelang akhir Juni.

Meski demikian, Rubner tetap mempertahankan pandangan positif. 

Ia menyebut permintaan ritel berada di level rekor, arus masuk ETF terus meningkat, buyback perusahaan tetap kuat, dan secara musiman pasar berada dalam periode yang cenderung bullish. 

“Kami masih percaya jalur yang paling mudah adalah naik,” ujarnya, seraya menyarankan klien untuk membeli saat terjadi penurunan akibat volatilitas.

Tidak semua pelaku pasar melihat momen ini sebagai sinyal trading langsung. 

Imanol Urquizu, Head of Derivatives Eropa di Santander Asset Management, mengatakan kepada Barron’s bahwa witching bukan sinyal trading, melainkan pengingat bahwa struktur pasar sesekali menjadi sama pentingnya dengan narasi makro.

ETF IVV, dengan aset kelolaan sekitar US$854,9 miliar dan 1,125 miliar saham beredar, menjadi salah satu instrumen besar yang terdampak. Posisi harga saat ini yang berada di dekat level atas rentang 52 minggu (US$594,71–US$764,00) membuat aktivitas hedging dealer menjadi lebih sensitif saat kontrak kedaluwarsa.

Dengan pasar tutup pada Jumat untuk Juneteenth dan baru dibuka kembali pada Senin, 22 Juni, penyesuaian harga pasca-ekspirasi baru akan terlihat minggu depan. 

Para analis menilai periode hingga akhir kuartal 30 Juni akan tetap didominasi oleh faktor teknikal, dan setelah volatilitas mereda, kondisi pasar cenderung kembali mendukung tren kenaikan. (DK)