Kisah Wang Xin dari buruh pabrik jadi 'ratu' bor khusus PCB global

Rabu, 10 Juni 2026

image

GUANGZHOU - Tiga puluh tujuh tahun lalu, Wang Xin bekerja di lini perakitan sebuah pabrik mainan di Tiongkok selatan. Saat itu, sulit membayangkan bahwa ia kelak akan membangun perusahaan yang menjadi salah satu pemain utama dunia dalam industri alat presisi untuk pembuatan papan sirkuit elektronik.

Dikutip dari Xinhua, Wang kini merupakan pendiri sekaligus Ketua Guangdong Dtech Technology Co., Ltd., perusahaan yang baru saja mengakuisisi MPK Kemmer, pelopor industri mata bor papan sirkuit cetak (printed circuit board/PCB) asal Jerman.

Perusahaan tersebut saat ini menguasai pangsa pasar terbesar di dunia untuk mata bor PCB, dengan hampir tiga dari setiap 10 produk yang terjual secara global berasal dari Dtech.

Wang lahir dari keluarga petani di Provinsi Henan, Tiongkok bagian tengah. Pada 1989, dengan uang hasil penjualan kedelai milik ibunya, ia berangkat ke Dongguan, kota di Provinsi Guangdong yang kelak dikenal sebagai salah satu motor industrialisasi Tiongkok.

Pekerjaan pertamanya adalah sebagai buruh di pabrik mainan. Saat banyak rekan kerjanya menghabiskan waktu luang untuk hiburan, Wang memilih menggunakan waktu luangnya untuk belajar akuntansi.  

Ia kemudian bekerja sebagai staf penjualan di sebuah perusahaan perdagangan elektronik. Namun, setelah berhasil manangani pesanan besar, atasannya menolak untuk membayar komisi sesuai dengan yang sebelumnya dijanjikan.

Pengalaman tersebut mendorong Wang mendirikan usaha sendiri bersama ibu, saudara laki-laki, dan iparnya pada 1997.

Mereka memulai bisnis dari sebuah apartemen kecil dengan satu telepon, satu mesin faksimile, dan mesin gerinda bekas.

Pada tahap awal, keluarga Wang mengumpulkan mata bor bekas dari pabrik besar, mengasahnya kembali, lalu menjualnya kepada produsen yang lebih kecil.

Bisnis tersebut menghasilkan keuntungan, tetapi Wang menyadari model usaha tersebut tidak akan bertahan dalam jangka panjang.

Bangun Teknologi Sendiri

Pada 2004, Wang mulai mengembangkan produk buatannya sendiri. Tim riset dan pengembangan perusahaan saat itu hanya terdiri dari tiga orang.

Karena belum memiliki prototipe, tim tersebut harus mempelajari berbagai referensi teknis dan meneliti produk yang sudah ada di pasar untuk mengembangkan teknologi mereka sendiri.

Wang mengatakan bahwa pada masa-masa sulit, dirinya dan para pemegang saham lain tidak mengambil gaji agar perusahaan dapat terus membayar karyawan dan menginvestasikan keuntungannya untuk riset dan inovasi.

Momentum penting terjadi pada krisis keuangan global 2008. Ketika banyak produsen mencari alternatif yang lebih murah, Dtech memanfaatkan teknologi yang dikembangkan sendiri untuk meningkatkan produksi dan memperluas pangsa pasar.

Penjualan perusahaan melonjak sekitar 50% pada periode tersebut.

Pertumbuhan bisnis Dtech berlanjut hingga perusahaan tersebut resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Shenzhen pada November 2022 melalui papan ChiNext.

Memasuki 2026, lonjakan investasi global di sektor kecerdasan buatan turut meningkatkan permintaan di  industri PCB.

Mata bor PCB buatan Dtech memiliki diameter hanya 0,01 milimeter, atau sekitar seperlima lebar rambut manusia.

Tingkat presisinya berperan penting dalam kualitas transmisi sinyal serta kinerja cip semikonduktor.

Menurut Wang, upaya untuk menghasilkan produk berteknologi tinggi dan berdaya saing global telah menjadi salah satu ciri perkembangan sektor manufaktur di Dongguan.

Perjalanan Wang juga mencerminkan transformasi industri Tiongkok yang kini tidak lagi hanya mengandalkan biaya produksi murah, tetapi semakin bersaing melalui inovasi teknologi dan rekayasa presisi.

Meski telah menjadi pemimpin pasar global, Wang mengatakan perusahaannya akan terus berinvestasi dalam pengembangan teknologi. Akuisisi MPK Kemmer di Jerman diharapkan dapat membantu Dtech memperluas penetrasi pasar di Eropa dan Amerika Serikat. (ARF)