Gina Rinehart bertaruh pada impian Musk, investasi US$1 miliar
Sabtu, 20 Juni 2026
SYDNEY – Perusahaan tambang Hancock Prospecting milik orang terkaya Australia, Gina Rinehart, menginvestasikan US$1 miliar atau sekitar Rp22 triliun di SpaceX milik Elon Musk.
Investasi tersebut menjadi investasi tunggal terbesar Hancock Prospecting di luar bisnis utamanya yang bergerak di sektor bijih besi.
Dikutip dari The Sydney Morning Herald, investasi itu dilakukan hanya beberapa hari setelah SpaceX mencatatkan sahamnya melalui penawaran umum perdana (IPO) terbesar dalam sejarah.
Berdasarkan harga perdagangan hari pertama, investasi Hancock Prospecting diperkirakan langsung menghasilkan keuntungan sekitar US$190 juta.
SpaceX sendiri menghimpun dana sebesar US$75 miliar melalui pencatatan saham di Nasdaq pada Jumat (12/6). Saham perusahaan ditutup melonjak 19,2% pada hari pertama perdagangan sehingga valuasi SpaceX mencapai sekitar US$2,1 triliun.
Lonjakan tersebut turut menjadikan Elon Musk sebagai triliuner pertama di dunia berdasarkan nilai kekayaan di atas kertas.
Investasi itu juga semakin mempererat hubungan Rinehart dengan Musk. Keduanya diketahui beberapa kali bertemu dan sempat terlihat bersama di Mar-a-Lago pada 2024 setelah pemilu Amerika Serikat.
Dalam pengumumannya, Hancock Prospecting turut memuji peran Musk dalam program efisiensi pemerintahan Presiden Donald Trump yang dikenal dengan nama DOGE.
Rinehart mengatakan investasi tersebut mencerminkan keyakinan perusahaannya terhadap kepemimpinan Musk serta pentingnya investasi berkelanjutan pada teknologi dan inovasi.
Menurutnya, SpaceX dipimpin oleh sosok yang luar biasa dan beroperasi di sektor-sektor strategis yang akan memainkan peran penting bagi masa depan.
Prospek SpaceX
Analis Morningstar Nicolas Owens menilai harga saham SpaceX masih berpotensi menguat dalam jangka pendek karena tingginya permintaan investor serta peluang masuk ke indeks Nasdaq 100.
Menurut Owens, jumlah saham yang beredar relatif terbatas, sementara minat investor terhadap infrastruktur kecerdasan buatan (AI) masih sangat tinggi.
Investasi Hancock Prospecting di SpaceX menjadi investasi terbesar perusahaan di luar sektor bijih besi.
Selama ini Hancock dikenal sebagai salah satu produsen bijih besi terbesar di Australia melalui operasinya di kawasan Pilbara, Australia Barat.
Berdasarkan daftar orang terkaya Australian Financial Review, kekayaan Rinehart tahun ini diperkirakan mencapai sekitar US$39 miliar.
Kepemilikan saham SpaceX menambah portofolio investasi Hancock yang sebelumnya telah mencakup Tesla, Nvidia, Trump Media & Technology Group, sejumlah perusahaan pertahanan Amerika Serikat, serta perusahaan mineral kritis seperti MP Materials, Liontown Resources, dan Azure Minerals.
Risiko investasi
CEO Hancock Prospecting Garry Korte mengatakan terdapat peluang kerja sama yang saling menguntungkan antara SpaceX dan perusahaan tambang tersebut, terutama dalam penyediaan bahan baku untuk teknologi canggih.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa investasi di SpaceX tetap memiliki risiko.
Analis pasar Stake Kylie Purcell mengatakan valuasi SpaceX saat ini sudah sangat tinggi sehingga menyisakan ruang kenaikan yang terbatas apabila kinerja perusahaan tidak mampu memenuhi ekspektasi pasar.
Ia menyarankan investor menempatkan saham SpaceX sebagai bagian dari portofolio yang terdiversifikasi dan tidak hanya berfokus pada pergerakan harga jangka pendek.
Sebagian besar optimisme investor terhadap SpaceX saat ini masih bertumpu pada kemampuan Musk mewujudkan berbagai visi jangka panjang, mulai dari pembangunan pusat data AI di orbit, kolonisasi Mars, hingga pengembangan bisnis komunikasi satelit Starlink yang kini menjadi sumber pendapatan utama perusahaan. (ARF)