Bos OPEC bantah prediksi IEA dunia akan surplus minyak

Jumat, 19 Juni 2026

image

JAKARTA - Sekretaris Jenderal OPEC, Haitham Al Ghais, menolak proyeksi Badan Energi Internasional (IEA) yang memperkirakan pasar minyak dunia akan menghadapi kelebihan pasokan besar dalam beberapa tahun mendatang.

Menurutnya, perkiraan tersebut terlalu spekulatif dan tidak didukung data yang cukup kuat.

Seperti dikutip CNBC, IEA dalam laporan terbarunya menyebut penyelesaian konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong lonjakan produksi minyak global dan menciptakan surplus pasokan pada 2027. Lembaga tersebut memperkirakan pasokan minyak akan meningkat hingga 8 juta barel per hari, sementara permintaan hanya bertambah sekitar 2 juta barel per hari.

"Terkadang lebih baik untuk tidak membuat asumsi seperti itu ketika asumsi tersebut sebenarnya tidak berdasarkan fakta dan angka," kata Al Ghais dalam wawancara dengan CNBC, Kamis.

Ia menegaskan OPEC lebih memilih berpegang pada data fundamental pasar dibanding membangun proyeksi berdasarkan asumsi yang belum pasti.

"Apa yang dilihat IEA yang tidak dilihat OPEC dan yang lainnya?"

"(Kami fokus) pada fundamental dan tidak memasukkan banyak 'jika' dan 'tetapi' dalam perkiraan kami, tetapi lebih fokus pada angka aktual."

Menurut Al Ghais, OPEC tidak mengejar perhatian publik melalui prediksi yang sensasional.

"Kami tidak bertujuan membuat judul berita yang menarik. Terkadang lebih baik tidak membuat asumsi seperti itu... ketika asumsi tersebut sebenarnya tidak berdasarkan fakta dan angka aktual."

"Pada akhirnya, judul berita ini hanya menciptakan lebih banyak volatilitas."

Pernyataan Al Ghais muncul ketika pelaku pasar tengah menilai dampak kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran terhadap prospek pasar energi global.

Kedua negara menandatangani memorandum kesepahaman berisi 14 poin pada Rabu. Kesepakatan tersebut mencakup komitmen untuk melanjutkan negosiasi selama 60 hari guna mencapai perjanjian final, rencana rekonstruksi Iran senilai US$300 miliar, serta pencabutan seluruh jenis sanksi AS terhadap Iran.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran menyatakan akan mengizinkan kapal komersial melintas dengan aman di Selat Hormuz tanpa biaya selama 60 hari. Setelah periode tersebut, Iran akan berdiskusi dengan Oman dan negara-negara Teluk lainnya mengenai tata kelola jalur pelayaran strategis tersebut.

Al Ghais mengatakan OPEC menyambut baik upaya diplomatik yang menghasilkan kesepakatan antara Washington dan Teheran. Namun, ia menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan dampaknya terhadap pasar energi karena banyak faktor yang masih dapat berubah.

Menurutnya, perkembangan beberapa bulan terakhir justru menunjukkan betapa pentingnya Selat Hormuz bagi stabilitas pasokan energi dunia.

"Saya rasa apa yang telah dibuktikan dalam empat bulan terakhir adalah betapa pentingnya jalur air itu, bukan hanya bagi produsen OPEC, tetapi juga bagi produsen Timur Tengah dan pasar energi global," kata Al Ghais.(DH)