Chery, Geely, Changan bidik pasar hybrid, siap tantang Jepang
Jumat, 19 Juni 2026
BEIJING - Chery, Geely, dan Changan semakin agresif mengembangkan teknologi kendaraan hybrid di tengah persaingan industri otomotif global. Langkah tersebut dinilai dapat menekan dominasi produsen Jepang seperti Toyota dan Nissan.
Dikutip dari Cars Guide yang mengacu pada laporan Nikkei Asia, pabrik otomotif Tiongkok disebut semakin menyaingi kemampuan produsen Jepang dalam pengembangan mesin pembakaran internal (ICE), dengan dukungan kecerdasan buatan (AI) yang mempercepat inovasi dan efisiensi teknologi.
Salah satu contohnya adalah sistem penggerak hybrid KunPeng Sky Optimus milik Chery yang diperkenalkan melalui Tiggo 9L dalam Beijing Auto Show dan Shenzhen Auto Show.
Mesin tersebut dirancang untuk kendaraan plug-in hybrid (PHEV) dan extended-range electric vehicle (EREV), dengan tingkat efisiensi termal mencapai 48,57%. Angka tersebut menunjukkan kemampuan mesin mengubah bahan bakar menjadi tenaga secara lebih efisien dibandingkan mesin konvensional yang umumnya memiliki efisiensi termal sekitar 38% hingga 45%.
Meski kendaraan energi baru menyumbang sekitar 48% penjualan mobil baru di Tiongkok sepanjang 2025, model berbahan bakar bensin masih menyumbang sekitar 70% penjualan domestik Chery. Karena itu, pengembangan teknologi mesin dinilai tetap menjadi faktor penting bagi perusahaan.
Geely juga mengembangkan mesin hybrid i-HEV yang telah digunakan pada SUV Xingyue L. Perusahaan mengklaim mesin tersebut memiliki efisiensi termal sebesar 48,41% dan terus dikembangkan dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan.
CEO Geely Automobile Group Gan Jiayue, bahkan menyatakan perusahaannya siap menantang dominasi teknologi hybrid Jepang.
Menurut laporan tersebut, Geely menargetkan peningkatan penjualan luar negeri sebesar 80% menjadi 750.000 unit pada 2026. Pada tahun lalu, kendaraan bermesin pembakaran internal masih menyumbang lebih dari separuh total penjualan perusahaan.
Sementara itu, Changan memperkenalkan Blue Whale Super Engine yang disiapkan untuk produksi massal kendaraan hybrid.
Mesin tersebut menggunakan teknologi injeksi bahan bakar bertekanan 500 bar, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sistem injeksi langsung yang umumnya berada di kisaran 200 bar. Teknologi tersebut diklaim mampu meningkatkan efisiensi termal sekaligus menghasilkan tenaga yang lebih besar saat akselerasi.
Berdasarkan proyeksi GlobalData yang dikutip dalam laporan tersebut, kendaraan listrik diperkirakan akan menyumbang sekitar 49% penjualan mobil global pada 2038, meningkat dibandingkan dengan 33% pada 2025.
Di sisi lain, pangsa kendaraan berbahan bakar bensin diproyeksikan turun sekitar 36% dalam periode yang sama.
Meski demikian, kendaraan hybrid diperkirakan akan tetap bertahan dengan pangsa sekitar 15% dari penjualan mobil baru global, sementara plug-in hybrid diproyeksikan mencapai sekitar 8%.
Laporan tersebut mencatat produsen Jepang masih menguasai sekitar 30% penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal global, lebih tinggi dibandingkan dengan Tiongkok yang menguasai sekitar 20%.
Namun, Nikkei Asia menilai perusahaan otomotif Tiongkok berpotensi mengubah peta persaingan pasar kendaraan hybrid global melalui pengembangan mesin yang lebih hemat bahan bakar serta integrasi teknologi kendaraan yang semakin cerdas. (ARF)