Drone tiltrotor otonom seberat 6 ton Tiongkok uji terbang bebas
Sabtu, 20 Juni 2026
BEIJING - Drone tiltrotor otonom R6000 buatan Tiongkok resmi memasuki tahap uji terbang bebas penuh, menandai kemajuan penting dalam pengembangan teknologi pesawat lepas landas dan mendarat vertikal (VTOL) di negara tersebut.
Dikutip dari Interesting Engineering, rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan R6000 melakukan berbagai manuver terbang vertikal, termasuk berputar saat melayang di udara, sebelum bertransisi ke penerbangan maju dengan kedua baling-baling utamanya mengarah ke depan.
Uji terbang bebas ini menjadi tonggak penting bagi United Aircraft karena sebelumnya R6000 hanya menjalani pengujian melayang dengan kabel pengaman.
R6000 yang juga dikenal dengan nama UR6000 atau Lan Ying (Steel Shadow) merupakan pesawat tiltrotor tanpa awak dengan bobot sekitar 6 ton.
Pesawat ini menggunakan konfigurasi nacelle mesin tetap dengan rotor yang dapat dimiringkan, berbeda dengan V-22 Osprey yang memutar seluruh nacelle mesinnya saat beralih antara mode vertikal dan horizontal.
Desain R6000 menggabungkan kemampuan lepas landas dan mendarat vertikal ala helikopter dengan kecepatan dan jangkauan terbang layaknya pesawat konvensional.
Prototipe pesawat ini pertama kali muncul di lini produksi United Aircraft di Wuhu, Provinsi Anhui, pada Oktober 2024.
United Aircraft lalu memperkenalkan R6000 dalam Singapore Airshow 2024, baik dalam versi berawak maupun tanpa awak. Setelah menyelesaikan serangkaian uji mesin di darat, pesawat tersebut mulai menjalani uji melayang dengan kabel pengaman pada akhir 2025.
Secara resmi, United Aircraft memasarkan R6000 untuk kebutuhan sipil seperti logistik, penanganan bencana, dukungan bagi fasilitas pantai lepas, serta operasi di wilayah yang tidak memiliki landasan pacu.
Jika dioperasikan sebagai pesawat dengan awak kabin,, R6000 dapat mengangkut hingga 12 orang
Namun, sejumlah pengamat menilai kemampuan R6000 juga sesuai dengan kebutuhan militer Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA).
Menurut laporan The War Zone, pesawat tersebut berpotensi digunakan untuk memasok kebutuhan logistik ke pangkalan-pangkalan terpencil di Laut China Selatan, pos perbatasan, maupun operasi amfibi.
Drone ini juga berpotensi dioperasikan dari kapal serbu amfibi besar milik Angkatan Laut Tiongkok, termasuk kapal tipe 076, guna memperluas jangkauan logistik.
Selain angkut logistik, kapasitas muatan yang besar memungkinkan R6000 digunakan untuk misi intelijen, pengawasan, pengintaian, peperangan elektronik, relay komunikasi, hingga operasi serangan.
Kemajuan R6000 terjadi di tengah meningkatnya investasi Tiongkok pada sistem tanpa awak, mulai dari drone taktis berukuran kecil hingga pesawat kargo otonom berukuran besar.
Meski demikian, teknologi tiltrotor masih menghadapi berbagai tantangan teknis, sebagaimana yang pernah dialami program V-22 Osprey di Amerika Serikat.
Hingga kini, United Aircraft belum merilis rincian performa R6000, termasuk kecepatan, jangkauan terbang, maupun kapasitas operasionalnya.
Pengujian lanjutan diperkirakan akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai kemampuan pesawat dalam bertransisi dari posisi melayang ke penerbangan maju.
Pengembangan R6000 dipandang sebagai bagian dari upaya Tiongkok memperkuat kemampuan penerbangan modern melalui platform yang dapat digunakan untuk kebutuhan komersial maupun pertahanan. (ARF)