Rebutan bauksit ubah peta industri aluminium di dunia
Sabtu, 20 Juni 2026
LONDON - Industri aluminium global tengah menghadapi perubahan besar seiring meningkatnya persaingan memperebutkan bahan baku, tekanan geopolitik, serta ketatnya pasokan logam di pasar internasional.
Dikutip dari AI Circle, perubahan tersebut tidak hanya terjadi di pasar aluminium, tetapi juga mencakup seluruh rantai nilai industri, mulai dari bauksit sebagai bahan baku utama, alumina sebagai produk antara, hingga aluminium primer.
Upaya mengamankan pasokan bauksit kini menjadi prioritas bagi banyak negara.
India, misalnya, tengah menjajaki kerja sama dengan Venezuela untuk memperoleh akses jangka panjang terhadap cadangan bauksit di wilayah Los Pijiguaos yang diperkirakan menyimpan miliaran ton bijih tersebut.
Langkah ini mencerminkan semakin pentingnya upaya mengamankan pasokan bahan baku di tengah pertumbuhan industri manufaktur dan aluminium global.
Di sisi lain, Guinea terus memperkuat posisinya sebagai salah satu pemasok bauksit terbesar di dunia.
Peningkatan pengiriman bauksit dan bijih besi dari Guinea turut mendongkrak kinerja perusahaan tambang Ashapura Minechem. Pada tahun fiskal 2026, pendapatan perusahaan melonjak 91,2% menjadi 52,37 miliar rupee India, sementara laba meningkat 44%.
Sementara itu, sejumlah proyek baru mulai bermunculan. Kamerun menargetkan pengiriman pertama bauksit dari proyek Minim Martap pada September 2026 setelah pembangunan jaringan kereta api dan pelabuhan selesai.
Namun, tidak semua negara mengalami perkembangan yang mulus. Di Kepulauan Solomon, industri bauksit kembali menjadi sorotan setelah muncul perhatian politik terhadap 33 pengiriman bauksit dari wilayah West Rennell.
Di sektor alumina, pertumbuhan produksi berjalan beriringan dengan meningkatnya tekanan lingkungan dan geopolitik.
Produksi alumina Tiongkok meningkat dari sekitar 71 juta ton pada 2020 menjadi hampir 93 hingga 95 juta ton pada 2025.
Namun, peningkatan produksi tersebut juga memicu kenaikan volume limbah red mud atau lumpur merah sekitar 33%, sehingga isu efisiensi pemrosesan bijih dan pengelolaan limbah semakin menjadi sorotan.
Ketergantungan Tiongkok terhadap bauksit impor juga terus meningkat.
Menurut Bauxite Index, hanya sekitar 25% produksi alumina Tiongkok pada 2025 yang berasal dari bauksit domestik, turun tajam dibandingkan lebih dari 70% sebelum 2019.
Di Eropa, Estonia kembali menyerukan larangan penuh ekspor alumina ke Rusia karena dinilai masih menopang sektor industri dan pertahanan negara tersebut.
Perdebatan ini menunjukkan bahwa alumina tidak lagi sekadar komoditas industri, tetapi juga telah menjadi bagian dari dinamika geopolitik dan kebijakan sanksi internasional.
Tekanan yang muncul di sektor hulu mulai terasa di pasar aluminium global.
Gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap operasional smelter, jalur pelayaran, dan pasokan energi regional.
Kondisi tersebut mendorong harga aluminium di London Metal Exchange (LME) ke level tertinggi dalam empat tahun dan mendekati US$4.000 per ton.
Kenaikan harga juga diperkuat oleh kebijakan Tiongkok yang membatasi kapasitas produksi aluminium nasional pada level 45 juta ton per tahun, sehingga membatasi kemampuan negara tersebut untuk meningkatkan pasokan secara cepat.
Dampaknya mulai terlihat di berbagai pasar regional. Pembeli Jepang, misalnya, menerima penawaran premi aluminium sebesar US$480 per ton untuk pengiriman Juli-September 2026, sekitar 36%-37% lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya.
Pemerintah berbagai negara juga mulai meningkatkan perhatian terhadap keamanan rantai pasok aluminium.
Di Amerika Serikat, anggota Kongres Haley Stevens mengusulkan Secure Aluminium Supply Chains Act yang mewajibkan penyelidikan terhadap ekspor skrap aluminium serta dampaknya terhadap industri manufaktur domestik.
India Pusat Pertumbuhan Baru
Di tengah ketatnya pasokan global, India semakin menempatkan diri sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri aluminium dunia.
Negara tersebut saat ini merupakan produsen aluminium primer terbesar kedua di dunia sekaligus konsumen terbesar ketiga.
Produksi nasional didukung oleh perusahaan-perusahaan besar seperti NALCO, Hindalco, Vedanta, dan BALCO dengan kapasitas peleburan gabungan sekitar 4,3 juta ton per tahun.
Namun, peran India dalam industri aluminium global kini tidak lagi hanya sebagai produsen.
Ekspor aluminium primer India ke Amerika Serikat terus meningkat meskipun terdapat kekhawatiran terkait kebijakan tarif AS.
Pada kuartal pertama 2026, nilai ekspor aluminium primer India ke AS naik 43,64% secara tahunan menjadi US$154,66 juta.
Di saat yang sama, konsumsi domestik diperkirakan melonjak dari 4,5 juta ton menjadi 8,3 juta ton pada 2030.
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan tersebut, produsen aluminium India berencana menginvestasikan lebih dari 640 miliar rupee India untuk pengembangan tambang, kilang alumina, dan fasilitas peleburan baru.
Meski demikian, pertumbuhan permintaan diperkirakan tetap lebih cepat dibandingkan penambahan kapasitas produksi, terutama karena impor aluminium India saat ini telah mendekati 3 juta ton per tahun.
Selat Homuz Jadi Faktor Penentu
Memasuki paruh kedua 2026, industri aluminium global berada di titik krusial.
Pasokan bauksit terus bertambah di sejumlah negara, namun di saat yang sama semakin dipandang sebagai komoditas strategis. Produsen alumina menghadapi tekanan lingkungan dan geopolitik, sementara pasar aluminium masih dibayangi gangguan pasokan.
Salah satu faktor yang kini menjadi perhatian utama adalah Selat Hormuz.
Harga aluminium telah melonjak sekitar 29,1% sepanjang paruh pertama 2026 dan sempat mencapai US$3.855 per ton pada 2 Juni akibat ketatnya persediaan dan meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan.
Namun, kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran membuka peluang normalisasi arus pengiriman bahan baku dan logam melalui jalur tersebut.
Jika jalur pelayaran kembali normal, hingga 700.000 ton aluminium berpotensi kembali memasuki pasar secara bertahap dan membantu meredakan tekanan pasokan yang selama ini membayangi industri.
Perkembangan tersebut akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah pasar aluminium global pada paruh kedua 2026. (ARF)