Microsoft temukan malware pencuri dompet kripto via USB

Sabtu, 20 Juni 2026

image

WASHINGTON - Microsoft menemukan malware yang menargetkan dompet kripto pengguna Windows dengan mencuri data sensitif serta mengalihkan transaksi aset digital ke alamat yang dikendalikan pelaku.

Dikutip dari CoinDesk, malware tersebut telah menyebar sejak Februar 2026 melalui USB drive yang terinfeksi. Microsoft menyebutnya sebagai "crypto clipper", sementara Microsoft Defender Antivirus mengidentifikasinya sebagai Trojan/CryptoBandits.

Malware ini dirancang untuk mencuri private key dan seed phrase dompet kripto, sekaligus memanipulasi alamat tujuan transaksi tanpa sepengetahuan pengguna.

Proses infeksi bermula ketika pengguna mencolokkan USB drive yang telah terinfeksi dan membuka file shortcut berbahaya berformat ".lnk".

Dalam sistem operasi Windows, file shortcut berfungsi sebagai pintasan untuk membuka program, folder, atau file tertentu.

Saat file tersebut dijalankan, malware jenis worm akan terinstal di komputer korban.

Setelah aktif, malware akan menjalankan dua fungsi utama. Pertama, mencuri data yang berkaitan dengan dompet kripto pengguna. Kedua, menunggu perangkat USB lain terhubung ke komputer untuk menyebarkan infeksi lebih lanjut.

Malware ini secara rutin memantau clipboard Windows, yakni ruang penyimpanan sementara yang digunakan saat pengguna melakukan copy dan paste.

Ketika pengguna menyalin seed phrase atau private key dompet kripto seperti bitcoin dan ethereum, malware akan mengambil data tersebut lalu mengirimkannya ke server milik pelaku melalui jaringan anonim Tor.

Tak hanya itu, malware juga mengambil lima tangkapan layar dengan jeda 10 detik dan mengirimkannya ke server yang sama.

Risiko yang lebih besar muncul ketika pengguna hendak mengirim aset kripto.

Saat alamat dompet penerima disalin ke clipboard, malware diam-diam menggantinya dengan alamat dompet yang dikendalikan oleh pelaku. Akibatnya, dana yang dikirim pengguna bisa masuk ke dompet milik pelaku tanpa disadari.

Malware tersebut juga mampu menyebar secara otomatis ke perangkat USB lain yang terhubung ke komputer yang telah terinfeksi.

Program akan memindai berbagai file umum seperti dokumen Word, file Excel, dan PDF. File-file tersebut kemudian digantikan dengan shortcut berbahaya yang menggunakan nama yang sama sehingga pengguna sulit menyadari adanya infeksi.

Siklus penyebaran akan terus berulang ketika perangkat USB tersebut digunakan pada komputer lain.

Untuk mengurangi risiko serangan, Microsoft menyarankan pengguna untuk menonaktifkan fitur AutoRun pada media penyimpanan eksternal.

Perusahaan juga merekomendasikan pemblokiran eksekusi file shortcut (.lnk) dari USB drive melalui kebijakan sistem, serta membatasi penggunaan host skrip seperti wscript.exe dan cscript.exe.

Selain itu, Microsoft telah merilis daftar indikator infeksi, termasuk hash file dan domain .onion yang digunakan sebagai pusat kendali malware, agar tim keamanan siber dapat mendeteksi aktivitas mencurigakan di jaringan mereka. (ARF)