Kurangi ketergantungan pada Tiongkok, Uni Eropa siapkan aturan khusus

Sabtu, 20 Juni 2026

image

JAKARTA - Komisi Eropa tengah menyiapkan aturan baru yang mewajibkan perusahaan di Uni Eropa untuk melakukan diversifikasi sumber pasokan strategis guna mengurangi ketergantungan pada Tiongkok

Dikutip dari Reuters, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan langkah tersebut diperlukan karena upaya perusahaan-perusahaan Eropa untuk mengurangi risiko ketergantungan terhadap Tiongkok yang dinilai masih berjalan terlalu lambat.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan para pemimpin Uni Eropa di Brussels pada Jumat (19/6).

Dalam pertemuan tersebut para pemimpin negara anggota juga sepakat meminta Komisi Eropa membuka dialog dengan mitra dagang utama terkait ketidakseimbangan ekonomi global serta meninjau apakah diperlukan langkah-langkah perdagangan baru.

Meski Tiongkok tidak disebut secara langsung dalam kesimpulan resmi pertemuan, isu tersebut tetap menjadi salah satu fokus utama pembahasan.

De-risking dari Tiongkok

Von der Leyen mengatakan Komisi Eropa akan mengajukan regulasi untuk mendorong diversifikasi rantai pasok karena proses de-risking dari Tiongkok belum menunjukkan kemajuan yang memadai.

Isu ini mengemuka tahun lalu ketika Tiongkok memanfaatkan dominasinya dalam pemrosesan mineral kritis dengan memberlakukan pembatasan ekspor logam tanah jarang (rare earth).

Menurutnya, skenario terbaik adalah apabila perusahaan-perusahaan Eropa secara sukarela mempercepat diversifikasi rantai pasok sehingga regulasi baru tersebut pada akhirnya tidak perlu diterapkan.

"Kita perlu melakukan perbaikan. Data yang ada sudah menunjukkan kondisi yang sebenarnya dan kita perlu menyeimbangkan kembali hubungan ekonomi ini," ujar von der Leyen.

Sebelumnya, negara-negara G7 juga menyepakati peningkatan kerja sama untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan mineral kritis.

Menanggapi langkah tersebut, Tiongkok meminta negara-negara G7 menghormati prinsip ekonomi pasar dan aturan perdagangan internasional, alih-alih membentuk kelompok-kelompok kecil yang eksklusif.

Sejumlah diplomat Uni Eropa menyebut terdapat kesamaan pandangan yang semakin kuat di antara negara anggota bahwa defisit perdagangan barang dengan Tiongkok telah menjadi persoalan serius.

Saat ini, defisit perdagangan barang antara Uni Eropa dan Tiongkok diperkirakan mencapai sekitar 1 miliar euro atau sekitar US$1,15 miliar per hari.

Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menegaskan hubungan dengan Tiongkok tetap penting, namun defisit perdagangan sebesar itu tidak dapat terus berlanjut.

"Kami tidak bisa terus mengangkat isu ini tanpa hasil yang nyata. Hingga saat ini, sayangnya Tiongkok belum memberikan hasil yang kami harapkan," ujarnya.

Sementara itu, Perdana Menteri Belgia, Bart De Wever, mengatakan para pemimpin Uni Eropa juga sepakat memperkuat solidaritas jika terjadi tindakan balasan dari negara lain terhadap kebijakan perdagangan blok tersebut.

Menurutnya, dampak dari tindakan balasan semacam itu tidak akan dirasakan secara merata karena tingkat kerentanan setiap negara berbeda-beda. (ARF)