China mulai ekspor galium ke Jepang, sinyal pelonggaran?

Minggu, 21 Juni 2026

image

Jakarta – China kembali mengekspor logam strategis galium ke Jepang setelah penghentian pengiriman selama empat bulan.

Langkah ini dinilai menjadi indikasi mulai meredanya pembatasan perdagangan sejumlah material penting yang digunakan dalam industri semikonduktor, kendaraan listrik, hingga telekomunikasi.

Berdasarkan Data Bea Cukai China, pengiriman galium ke Jepang pada Mei 2026 mencapai sekitar 6.000 kilogram. Jepang menjadi satu-satunya negara tujuan ekspor galium China selama periode tersebut.

Ekspor tersebut merupakan pengiriman pertama sejak Beijing menghentikan ekspor galium dan germanium ke Jepang pada awal tahun. Hingga kini, pengiriman germanium masih belum kembali dilakukan.

Galium dan germanium merupakan dua logam penting dalam rantai pasok industri teknologi. Material tersebut digunakan dalam produksi chip semikonduktor, serat optik, perangkat pengisian cepat kendaraan listrik (EV), hingga berbagai teknologi energi terbarukan.

Seperti dikutip dari South China Morning Post, 20/06/2026, Analis senior Economist Intelligence Unit (EIU), Xu Tianchen, menilai kembalinya ekspor galium kemungkinan hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sektor sipil. Menurutnya, hubungan diplomatik antara China dan Jepang belum menunjukkan perbaikan yang signifikan sehingga penggunaan untuk kepentingan militer diperkirakan masih dibatasi.

"Galium memiliki peran penting dalam industri kendaraan listrik dan peralatan telekomunikasi sehingga kebutuhan sektor sipil menjadi alasan paling memungkinkan atas dimulainya kembali ekspor tersebut," ujarnya.

Di sisi lain, ekspor magnet permanen berbasis tanah jarang dari China juga menunjukkan peningkatan. Pengiriman ke Jepang pada Mei melonjak sekitar 380% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, meski secara bulanan mengalami penurunan sekitar 35%.

Secara global, ekspor magnet tanah jarang China meningkat sekitar 282% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, volumenya turun hampir 8% dibandingkan April, yang dinilai masih berada dalam kisaran fluktuasi normal.

Uni Eropa menjadi salah satu tujuan utama ekspor dengan porsi hampir 40% dari total pengiriman. Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat juga mengalami lonjakan signifikan secara tahunan.

Sebelumnya, pemerintah China memperketat kontrol ekspor terhadap sejumlah unsur tanah jarang dan magnet permanen sebagai respons atas kebijakan tarif yang diberlakukan Amerika Serikat. Meski demikian, Beijing kemudian menyatakan akan kembali mempertimbangkan izin ekspor untuk penggunaan sipil yang memenuhi ketentuan.

Kembalinya ekspor galium diperkirakan menjadi sinyal positif bagi industri teknologi global yang masih bergantung pada pasokan material strategis dari China. Meski demikian, sejumlah pembatasan terhadap material yang memiliki potensi penggunaan militer diperkirakan masih akan tetap diberlakukan. (GA)