Iran tutup lagi Selat Hormuz, lalu lintas tanker turun

Minggu, 21 Juni 2026

image

JAKARTA – Iran mengklaim bahwa Selat Hormuz kembali ditutup di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Namun, data menunjukkan bahwa aktivitas pelayaran di jalur strategis tersebut sudah menurun jauh bahkan sebelum pernyataan resmi tersebut disampaikan.

Berdasarkan data perusahaan intelijen maritim Kpler, hanya sekitar 25 kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis, sementara jumlah tersebut dilaporkan turun menjadi satu digit pada hari berikutnya setelah pembatalan pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat terkait kesepakatan damai.

Dikutip dari CNN, analis minyak menyebutkan bahwa penurunan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan sudah berlangsung bertahap. Aktivitas kapal tanker sempat meningkat, tetapi masih jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik, ketika sekitar 100 hingga 120 kapal tanker melintasi selat tersebut setiap hari.

Sejak pecahnya ketegangan, hampir 500 kapal, termasuk sekitar 220 kapal tanker minyak, dilaporkan masih terjebak di wilayah Teluk Persia. Para pelaku industri menilai pemulihan lalu lintas pelayaran akan membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan setelah adanya kesepakatan gencatan senjata.

Kepala Keamanan Maritim BIMCO, Jakob Larsen, menyatakan bahwa kondisi keamanan di Selat Hormuz masih belum stabil. Ia menyoroti adanya risiko navigasi, termasuk area yang diduga masih berbahaya bagi pelayaran di bagian tengah selat, sehingga kapal hanya mengandalkan jalur pesisir yang lebih terbatas.

Di sisi lain, sekitar 20.000 awak kapal dilaporkan masih berada di kapal yang tertahan di kawasan tersebut. Kondisi ini menimbulkan tekanan tambahan bagi industri pelayaran, termasuk dari sisi operasional dan kesejahteraan awak kapal.

Selain faktor keamanan, industri asuransi maritim juga disebut masih belum sepenuhnya mengaktifkan kembali perlindungan risiko perang, yang sebelumnya ditarik sejak awal konflik. Hal ini membuat pemilik kapal berhati-hati untuk kembali beroperasi normal di kawasan tersebut.

Sejumlah analis menilai bahwa meskipun aktivitas pelayaran dapat kembali dibuka, normalisasi perdagangan minyak di kawasan Teluk Persia tidak akan berlangsung cepat. Pemulihan penuh diperkirakan bergantung pada stabilitas jangka panjang dan kepastian keamanan di Selat Hormuz.(GA)