Warsh rombak Fed, tinjau ulang inflasi hingga neraca US$6,7 triliun
Senin, 22 Juni 2026
JAKARTA - Ketua Federal Reserve (Fed), Kevin Warsh, memulai langkah besar untuk merombak cara kerja bank sentral Amerika Serikat dengan membentuk lima gugus tugas.
Dikutip dari CNBC, gugus tugas itu akan meninjau hampir seluruh aspek kebijakan moneter, mulai dari strategi komunikasi, metode pengukuran ekonomi, kerangka inflasi, dampak kecerdasan buatan (AI), hingga pengelolaan neraca Fed senilai US$6,7 triliun.
Dalam rapat pertamanya sebagai ketua Fed, Warsh mengumumkan kajian menyeluruh yang dinilai sebagai salah satu agenda reformasi paling ambisius yang pernah dijalankan oleh seorang pimpinan bank sentral AS dalam beberapa dekade terakhir.
Menurut Warsh, setiap gugus tugas akan mengkaji ulang fondasi kebijakan yang selama ini digunakan Fed dan memberikan rekomendasi bagi para pengambil keputusan.
“Mulailah dari prinsip dasar, ajukan pertanyaan-pertanyaan sulit, periksa praktik yang ada, pertimbangkan alternatif, dan pada akhirnya usulkan langkah selanjutnya untuk dipertimbangkan oleh pembuat kebijakan,” kata Warsh.
“Setiap gugus tugas akan melayani tujuan yang sama yang dianut oleh semua orang dalam sistem ini, yang dianut oleh semua orang di meja yang saya duduki selama beberapa hari terakhir yaitu Federal Reserve yang memiliki pandangan jernih tentang misinya, sesuai dengan tujuannya, dan berfokus pada masa depan,” tambahnya.
Pada Juli tahun lalu, saat masih menjadi kandidat Ketua Fed, ia menyerukan "perubahan rezim" di bank sentral AS dan menyoroti apa yang disebutnya sebagai krisis kredibilitas akibat kegagalan pejabat Fed mengantisipasi lonjakan inflasi pascapandemi.
Namun setelah resmi memimpin lembaga tersebut, Warsh memilih pendekatan yang lebih kolaboratif. Ia bahkan menyampaikan apresiasinya terhadap kualitas sumber daya manusia dan tradisi yang dimiliki Fed.
Chief Investment Strategist Brown Brothers Harriman, Scott Clemons, menilai reformasi yang dijalankan Warsh tetap mengarah pada perubahan mendasar meski dilakukan dengan pendekatan yang lebih halus.
“Menurut saya, yang kita saksikan adalah perubahan rezim, tetapi dengan cara yang halus,” kata Clemons.
Menurutnya, gugus tugas yang dibentuk Warsh berpotensi mengubah berbagai aspek operasional Fed, termasuk komunikasi kebijakan, penggunaan data ekonomi, pengelolaan neraca, dan kerangka inflasi.
Pandangan serupa disampaikan mantan Wakil Ketua Fed Roger Ferguson. Ia menilai pembentukan gugus tugas merupakan cara yang umum digunakan di lingkungan Fed untuk membangun konsensus sebelum menerapkan perubahan.
“Semua orang yang pernah berada di The Fed tahu bahwa cara perubahan beroperasi adalah melalui apa yang dia lakukan, yaitu membentuk gugus tugas untuk membangun konsensus,” ujar Ferguson.
Salah satu perubahan yang langsung terlihat adalah format pernyataan kebijakan Federal Open Market Committee (FOMC).
Fed memangkas sebagian besar bahasa standar yang selama bertahun-tahun digunakan dalam pernyataan pascarapat dan kembali menggunakan format yang menempatkan keputusan suku bunga di bagian awal dokumen.
Mantan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Loretta Mester, menyambut positif langkah tersebut.
“Saya menyukai kenyataan bahwa mereka membuang banyak hal yang kami sebut bahasa boilerplate yang sebenarnya tidak lagi berguna,” kata Mester.
Ia menilai sejumlah kalimat yang selama ini digunakan Fed sudah kehilangan relevansinya dan sulit dihapus dari dokumen resmi.
"Begitu sebuah frasa atau kalimat masuk ke sana, sangat sulit untuk mengeluarkannya. Jadi ini perlu semacam pembersihan," ujarnya.
Selain komunikasi, Warsh juga diperkirakan akan mengevaluasi keberadaan "dot plot", yaitu proyeksi suku bunga individual para pejabat FOMC, serta format konferensi pers yang telah digunakan selama sekitar 15 tahun terakhir.
Kajian juga akan mencakup neraca Fed yang membengkak sejak krisis keuangan global 2008 dan pandemi Covid-19. Warsh selama ini dikenal sebagai salah satu pengkritik kebijakan pembelian aset skala besar yang memperluas peran Fed di pasar obligasi.
Di saat yang sama, bank sentral AS akan meninjau kembali pendekatan pengukuran inflasi setelah kesalahan penilaian pada 2021-2022 ketika lonjakan harga dinilai hanya bersifat sementara.
Dampak kecerdasan buatan terhadap perekonomian dan pemanfaatan data serta analitik yang lebih luas dalam proses pengambilan kebijakan juga masuk dalam agenda evaluasi.
Chief Investment Officer Fixed Income BlackRock, Rick Rieder, menilai langkah yang ditempuh Warsh dapat membuka era baru kebijakan moneter di Amerika Serikat.
“Jadi, kali ini berbeda, kita mendengar tentang filosofi yang berbeda, alat yang berbeda, dan berpotensi etos kebijakan yang sangat berbeda,” kata Rieder.
Meski mendukung evaluasi menyeluruh, Mester menegaskan Fed tetap perlu menjelaskan secara transparan faktor-faktor yang akan menjadi dasar pengambilan kebijakan di masa depan agar publik memahami arah kebijakan bank sentral.
“Tidak harus berupa angka, tidak harus terlalu preskriptif, tetapi untuk mendapatkan gambaran tentang apa yang mereka perhatikan, hal-hal apa yang akan membujuk mereka ke satu arah atau arah lain,” katanya.
“Saya pikir itu adalah sesuatu yang kita inginkan agar para bankir sentral kita dapat mengartikulasikannya kepada kita. Jika tidak, itu hanya seperti ‘percayalah padaku,’ dan ‘percayalah padaku’ bukanlah komunikasi yang baik.”(DH)