STRC anjlok, kritik terhadap strategi bitcoin Saylor menguat

Senin, 22 Juni 2026

image

JAKARTA - Executive Chairman Strategy Inc., Michael Saylor, menyerukan persatuan di kalangan pendukung bitcoin di tengah memanasnya perdebatan mengenai strategi akumulasi aset kripto.

Melalui unggahan di platform X pada Minggu (21/06/26), Saylor mengajak komunitas bitcoin untuk lebih fokus pada peluang jangka panjang dibandingkan perbedaan pandangan yang muncul di antara pelaku industri.

"Para pendukung bitcoin sepakat pada 99% hal yang penting. Kita tidak boleh membiarkan 1% memecah belah kita sementara hampir seluruh modal global belum masuk ke jaringan moneter bitcoin. Peluangnya lebih besar daripada perdebatannya," tulis Saylor. 

Pernyataan tersebut,  seperti dikutip dari TradingView, muncul ketika salah satu instrumen pendanaan utama Strategy menghadapi tekanan pasar.

Saham preferen Variable Rate Series A Perpetual Stretch Preferred Stock (STRC) diperdagangkan jauh di bawah nilai penerbitannya sebesar US$100 per saham.

Dokumen pengajuan mingguan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) menunjukkan Strategy tidak menerbitkan saham STRC baru selama dua pekan berturut-turut.

Kondisi ini memicu spekulasi bahwa perusahaan menghentikan sementara program penjualan saham tersebut setelah harga STRC merosot hingga US$88,59.

Pada perdagangan Jumat, STRC ditutup di level US$88 per saham, jauh di bawah nilai nominalnya.

Penurunan harga STRC semakin mempertajam perdebatan mengenai model pendanaan yang digunakan perusahaan-perusahaan pemegang cadangan bitcoin.

CEO Twenty One Capital, Jack Mallers, menjadi salah satu pengkritik paling vokal terhadap pendekatan tersebut.

Dalam konferensi BTC Prague awal bulan ini dan podcast lanjutan setelahnya, Mallers menilai perusahaan treasury bitcoin yang menerbitkan saham preferen perpetual pada dasarnya menciptakan kewajiban keuangan yang tidak akan pernah berakhir. "Menandatangani perjanjian untuk berutang selamanya."

Mallers secara khusus menyoroti saham preferen STRC milik Strategy. Menurutnya, instrumen tersebut tidak dapat ditarik kembali (non-callable), tidak dapat dikonversi menjadi saham biasa, serta menawarkan imbal hasil sekitar 11,5% secara berkelanjutan.

Ia membandingkan STRC dengan obligasi konversi yang sebelumnya digunakan Strategy untuk membiayai akumulasi Bitcoin. Instrumen tersebut memiliki kupon yang jauh lebih rendah, bahkan mendekati nol persen, dan pada akhirnya dapat keluar dari struktur modal perusahaan setelah dikonversi menjadi saham.

"Obligasi abadi yang baru tidak akan pernah bisa dihapus,"kata Mallers.

Menurut dia, karakteristik tersebut menciptakan risiko jangka panjang yang lebih besar bagi perusahaan yang mengandalkan instrumen perpetual untuk membiayai pembelian Bitcoin.

Mallers juga menilai perusahaan treasury bitcoin berpotensi menghadapi tekanan serius apabila saham mereka tidak lagi diperdagangkan dengan premi dan nilai kepemilikan Bitcoin turun di bawah harga akumulasi.

Dalam situasi tersebut, menurutnya, perusahaan hanya memiliki beberapa opsi untuk memenuhi kewajiban kepada pemegang saham preferen, yakni menjual bitcoin, menerbitkan saham baru yang berpotensi mengencerkan kepemilikan investor, menghentikan pembayaran dividen saham preferen, atau mencari sumber arus kas lain.

Mallers kemudian membandingkan model tersebut dengan Strike, perusahaan yang dipimpinnya. Ia menilai bisnis pinjaman berbasis bitcoin milik Strike mampu menghasilkan arus kas berulang yang lebih berkelanjutan untuk mendukung strategi treasury jangka panjang.

Di tengah perdebatan tersebut, tekanan juga terlihat pada saham utama Strategy yaitu MSTR  yang ditutup melemah lebih dari 3% pada perdagangan Jumat.

Mengapa MSTR Turun

Seperti diketahui, Strategy menerbitkan instrumen keuangan berupa floating-rate preferred shares (saham preferen dengan bunga mengambang).

Produk ini dipasarkan sebagai instrumen yang relatif stabil layaknya pasar uang, memiliki nilai nominal (par) US$100, serta menawarkan imbal hasil tinggi sekitar 11,5% per tahun.

Dana yang dihimpun dari investor kemudian digunakan Strategy untuk membeli bitcoin dalam jumlah lebih besar.

Imbal hasil yang tinggi tersebut menarik minat banyak investor institusi, bahkan sebagian di antaranya menggunakan dana pinjaman (leverage) untuk memperbesar investasinya.

Namun, ketika harga bitcoin anjlok dan muncul ketidakpastian mengenai pembayaran dividen, investor yang menggunakan leverage menghadapi margin call dan diwajibkan menambah dana jaminan. Banyak yang tidak mampu memenuhi kewajiban tersebut sehingga posisi mereka dilikuidasi secara massal.

Akibatnya, harga STRC sempat anjlok hingga sekitar US$82,50, jauh di bawah nilai nominalnya sebesar US$100, dengan volume perdagangan mencapai miliaran dolar, sebelum akhirnya perlahan pulih ke kisaran US$88. (DH)