Jordi Visser: Bitcoin dan SpaceX sama-sama sulit dinilai

Senin, 22 Juni 2026

image

JAKARTA - Investor makro veteran, Jordi Visser, menilai bitcoin dan SpaceX memiliki karakteristik yang sama karena keduanya sulit dinilai menggunakan metrik keuangan konvensional.

Dalam wawancara di podcast Anthony Pompliano yang ditayangkan Sabtu, Visser mengatakan nilai kedua aset tersebut lebih banyak ditentukan oleh keyakinan investor terhadap prospek masa depan dibandingkan kinerja keuangan saat ini.

"Ketika sesuatu tidak memiliki nilai, maka tidak mungkin dinilai terlalu tinggi atau terlalu rendah. Ia tidak memiliki nilai. Itu hanyalah tebakan belaka," katanya, seperti dikutip TradingView.

Menurut Visser, investor membeli saham SpaceX karena percaya pada masa depan industri antariksa, termasuk kolonisasi Mars, pembangunan infrastruktur di bulan, dan ekspansi ekonomi luar angkasa. Sementara itu, investor Bitcoin bertaruh pada munculnya sistem moneter alternatif di masa depan.

Meski memiliki kesamaan dari sisi narasi investasi, Visser menilai keduanya saat ini bergerak dalam arah yang berbeda. "Bitcoin tidak memiliki energi," ujarnya.

Di sisi lain, lanjutnya, SpaceX berhasil menetapkan harga IPO di level US$135 per saham, yang memberikan valuasi sekitar US$1,77 triliun. Penawaran tersebut juga berpotensi menghasilkan dana hingga US$85,7 miliar setelah penjamin emisi menjalankan opsi greenshoe untuk menjual saham tambahan guna memenuhi tingginya permintaan investor.

Bagi Visser, keberhasilan IPO SpaceX menunjukkan arah pergerakan modal spekulatif saat ini yang lebih condong ke sektor teknologi dan AI dibandingkan aset kripto.

Ia berpendapat bahwa momentum pasar dan aliran dana investor ritel kini lebih banyak mengalir ke saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI), sementara pasar kripto kesulitan menarik pembeli baru.

Pandangan tersebut sejalan dengan komentar sejumlah tokoh industri kripto dalam beberapa bulan terakhir.

Executive Chairman Strategy Inc., Michael Saylor, sebelumnya menyebut kondisi tersebut sebagai "Kemerosotan AI di musim panas".

Sementara CEO Galaxy Digital, Mike Novogratz, menilai pasar kripto saat ini tidak memiliki energi dan kekurangan investor baru.

Visser juga menyoroti tekanan yang terjadi pada saham preferen STRC milik Strategy sebagai salah satu faktor yang memperburuk sentimen terhadap sektor perusahaan treasury bitcoin.

Ia menilai Bitcoin berpotensi kembali mendapatkan momentum apabila euforia terhadap saham-saham AI mulai mereda dan investor kembali mencari alternatif aset berisiko lainnya.

Pandangan tersebut menjadi perubahan dari sikap Visser sebelumnya. Pada awal tahun, ia menyebut Bitcoin sebagai "aset langka paling utama di era AI" dan memperkirakan aset kripto terbesar di dunia itu dapat mencetak rekor harga baru pada 2026.

Kini, Visser menilai Bitcoin kemungkinan masih akan bergerak terbatas hingga minat pasar terhadap sektor AI mulai berkurang, yang menurutnya dapat terjadi apabila momentum pasar saham melemah pada paruh kedua tahun ini. Saat laporan ini ditulis, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$64.065. (DH)