STRC & SATA anjlok, gelombang margin call guncang pasar yield bitcoin

Senin, 22 Juni 2026

image

JAKARTA - Pasar produk pendapatan berbasis bitcoin senilai sekitar US$10 miliar menghadapi ujian terbesarnya setelah saham preferen STRC milik Strategy dan SATA milik Strive jatuh tajam akibat gelombang margin call investor yang menggunakan leverage.

Seperti dikutip CryptoSlate, sepanjang pekan ini, STRC sempat merosot hingga US$82,50 dari level par US$100 sebelum pulih, sementara SATA turun ke kisaran US$90-an. Kedua instrumen tersebut sebelumnya dipasarkan sebagai produk berimbal hasil tinggi yang ditopang oleh perusahaan pemegang cadangan Bitcoin, dengan target perdagangan mendekati nilai par.

Penurunan tersebut menjadi peringatan pertama bagi pasar yang berkembang pesat dalam kurang dari satu tahun terakhir. Investor kini melihat bagaimana produk yield berbasis Bitcoin bereaksi ketika tekanan likuidasi mulai muncul.

STRC dan SATA dirancang sebagai saham preferen perpetual yang menawarkan dividen rutin tanpa tanggal jatuh tempo. Produk ini menarik minat investor karena memberikan imbal hasil sekitar 11%-13%, jauh di atas instrumen pendapatan tetap pada umumnya. Karena menawarkan yield yang tinggi dan harga STRC yang stabil di sekitar US$100, membuat investor, termasuk institusional tertarik dan membelinya dengan margin leverage tinggi. 

Penurunan harga STRC membuat investor tersebut harus menaikkan (top up) dana. Ketika Investor yang membeli dengan dana pinjaman kehilangan bantalan keamanan dan menghadapi penjualan paksa dari broker.

Co-founder DeFi Development Corp., Parker White, menilai penurunan STRC ke kisaran US$82 mengindikasikan terjadinya gelombang likuidasi paksa. Menurutnya, banyak investor masuk di level yang sama dan menggunakan skema margin yang serupa sehingga titik risiko mereka terkonsentrasi pada harga tertentu.

White mengatakan penurunan menuju level US$80-an kemungkinan telah memicu pelanggaran batas maintenance margin.

Akibatnya broker melakukan penjualan paksa tanpa memperhitungkan pandangan investor terhadap prospek jangka panjang produk tersebut.

Volume perdagangan yang melonjak di tengah sesi juga memperkuat dugaan adanya likuidasi paksa. Kondisi ini berbeda dengan pola normal pasar saham yang biasanya mencatat aktivitas tertinggi saat pembukaan dan penutupan perdagangan.

Tekanan jual juga merembet ke SATA. Dalam kondisi margin call, investor sering kali menjual aset lain yang masih likuid untuk memenuhi kewajiban tambahan dana. Akibatnya, tekanan menyebar ke produk yang memiliki basis investor serupa.

Meski harga tertekan, Strive menegaskan fundamental perusahaan tetap kuat. Chief Executive Officer Strive, Matt Cole, mengatakan volatilitas tersebut tidak mencerminkan memburuknya kualitas kredit perusahaan.

"Ketika pasar bergerak melawan investor yang menggunakan leverage, penjualan paksa dapat menciptakan efek berantai. Harga turun, margin call meningkat, lebih banyak penjualan terjadi, dan siklus tersebut terus berulang. Penjualan menjadi terlepas dari fundamental dan didorong oleh keterbatasan neraca."

Cole menegaskan cadangan dividen perusahaan tetap aman dan kemampuan pembayaran kewajiban tidak terganggu.

Pandangan serupa disampaikan pendukung Strategy. Kepala Strategi Bitcoin The Smarter Web Company, Jesse Myers, mengatakan penurunan harga STRC tidak mengubah kondisi neraca perusahaan maupun kapasitas pembayaran dividennya.

Koreksi harga justru meningkatkan imbal hasil efektif bagi investor baru. Dengan dividen yang tetap, pembelian saham di level US$85 memberikan yield lebih tinggi dibanding pembelian pada harga par US$100.

Masuknya pembeli baru membantu STRC dan SATA bangkit dari titik terendahnya. Kondisi ini mengindikasikan sebagian pelaku pasar melihat koreksi tersebut lebih sebagai dampak likuidasi paksa ketimbang perubahan fundamental emiten.

Meski demikian, gejolak terbaru diperkirakan akan mengubah cara pasar memperlakukan produk yield berbasis bitcoin.

Broker berpotensi memperketat aturan margin, sementara penerbit kemungkinan harus menawarkan perlindungan tambahan seperti cadangan kas yang lebih besar, program buyback yang lebih jelas, atau skema dividen yang lebih fleksibel.

Namun langkah-langkah tersebut memiliki konsekuensi. Dividen yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya pendanaan penerbit, sementara buyback dan cadangan kas yang lebih besar dapat mengurangi dana yang tersedia untuk akumulasi bitcoin.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa instrumen yang dirancang untuk menawarkan pendapatan dari eksposur bitcoin tetap rentan terhadap tekanan pasar ketika leverage terkonsentrasi dalam jumlah besar.

“Peristiwa hari ini sulit bagi sebagian investor, tetapi juga memberikan pelajaran. Kredit digital masih dalam tahap awal. Lebih baik bagi pasar untuk mengalami dan belajar dari dinamika ini sekarang, selagi pasar masih relatif kecil, daripada beberapa tahun dari sekarang ketika pasar sudah berkali-kali lebih besar. Investor, penerbit, dan pelaku pasar semuanya mendapat manfaat dari pemahaman risiko yang terkait dengan leverage dan likuiditas sebelum kelas aset ini mencapai skala penuh,” ujar Cole. (DH)