Biaya memori naik, Goldman Sachs turunkan outlook smartphone

Senin, 22 Juni 2026

image

JAKARTA - Goldman Sachs memangkas proyeksi pengiriman smartphone global untuk 2026 dan 2027, dengan alasan kenaikan harga chip memori yang menekan permintaan.

Seperti dikutip investing, Goldman menurunkan estimasi volume pengiriman smartphone global masing-masing 4% dan 3% menjadi 1,14 miliar unit pada 2026 dan 1,17 miliar unit pada 2027.

Proyeksi tersebut mengindikasikan penurunan 10% pada tahun ini, diikuti pertumbuhan 3% pada 2027. Angka ini lebih rendah dibanding estimasi sebelumnya, yakni penurunan 6% dan kenaikan 2%.

Bank tersebut juga memperkenalkan estimasi baru untuk 2028 sebesar 1,18 miliar unit, naik 1% secara tahunan.

Koreksi proyeksi terutama dipicu lonjakan biaya chip memori, seiring tingginya permintaan dari industri kecerdasan buatan (AI) yang menyerap kapasitas produksi semikonduktor global.

Meski volume turun, Goldman memperkirakan nilai pasar smartphone tetap tumbuh. Pendapatan industri diproyeksikan naik 3% menjadi US$596 miliar pada 2026, kemudian meningkat masing-masing 2% pada 2027 dan 2028 menjadi US$606 miliar dan US$621 miliar. Kenaikan harga komponen dan pergeseran ke perangkat premium di atas US$600 menjadi faktor penopang.

Goldman memperkirakan Apple tetap menjadi pemimpin pasar global dengan penjualan 246 juta unit pada 2026, disusul Samsung sebanyak 235 juta unit.

Bank itu juga tetap positif terhadap segmen ponsel lipat, dengan masuknya pemain baru pada paruh kedua 2026 dan pengembangan desain baru seperti tri-fold. Apple diperkirakan meluncurkan ponsel lipat pertamanya pada tahun tersebut.

Namun, Goldman memangkas proyeksi pengiriman ponsel lipat 2026 dan 2027 masing-masing 10% dan 7%. Penetrasi perangkat lipat diperkirakan naik menjadi 3,6% pada 2026, 5,9% pada 2027, dan 6,8% pada 2028, setara 41 juta, 69 juta, dan 80 juta unit.

Segmen premium di atas US$600 diperkirakan tumbuh dengan laju tahunan 5% hingga 2028 menjadi 402 juta unit, atau 34% dari total pasar, naik dari 29% pada 2025.

Segmen kelas menengah US$200–US$600 diproyeksikan turun 2% per tahun karena minimnya inovasi besar yang menahan minat konsumen. Sementara segmen bawah US$200 diperkirakan tumbuh terbatas, didukung migrasi ke jaringan 5G di negara berkembang, namun paling rentan terhadap tekanan biaya komponen.(DH)