Hadang dominasi mineral China, Amerika terpaksa gandeng negara sahabat

Rabu, 10 Desember 2025

image

JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump kini menyadari bahwa upaya domestik saja tidak cukup untuk mengakhiri cengkeraman China dalam rantai pasok mineral kritis global.

Washington kini secara agresif merangkul negara-negara sahabat, mulai dari Asia Tengah, Asia Tenggara, hingga Greenland, untuk mengamankan pasokan logam tanah jarang (rare earths) dan mineral strategis lainnya.

Langkah ini diambil karena China saat ini mengendalikan 90 persen kapasitas pemurnian global, sementara proyek pertambangan di AS dinilai belum cukup matang untuk memenuhi kebutuhan industri pertahanan dan teknologi dalam waktu dekat.

Seperti dilansir dari finance.yahoo.com (9/12), Pini Althaus, CEO Cove Capital, menyoroti bahwa AS terpaksa mendapatkan pasokannya dari negara sekutu karena minimnya proyek domestik yang siap beroperasi sebelum 2030.

Merespons urgensi ini, Washington telah menandatangani kesepakatan investasi senilai US$3 miliar dengan Australia, serta serangkaian kemitraan bilateral dengan Jepang, Malaysia, dan Indonesia di mana dalam kesepakatan tarif terbaru, Jakarta dilaporkan setuju untuk mencabut larangan ekspor nikelnya.

Selain itu, Bank Ekspor-Impor AS (Ex-Im Bank) baru saja menawarkan pembiayaan senilai US$900 juta untuk proyek tungsten senilai US$ 1,1 miliar milik Cove Capital di Kazakhstan, memanfaatkan data geologi era Soviet yang dinilai lebih siap garap dibanding proyek perintis (greenfield) di AS.

Strategi Washington tidak hanya terbatas pada diplomasi, tetapi juga intervensi pasar finansial. Pemerintah AS mulai menawarkan mekanisme harga dasar (price floor) untuk melindungi pengembang tambang dari praktik dumping harga yang kerap dilakukan China untuk mematikan kompetisi global.

Jeff Dickerson, Penasihat Utama di Rystad Energy, menyebut langkah terkoordinasi ini sebagai pendekatan "masa perang" (wartime approach) yang mutlak diperlukan. Tanpa jaminan stabilitas harga dan aliansi internasional yang solid, posisi negosiasi strategis AS dikhawatirkan akan terus melemah di hadapan Beijing.

Jangkauan AS juga meluas ke wilayah Arktik dan Eropa Timur. Tony Sage, CEO Critical Metals, mengungkapkan bahwa perusahaannya telah menerima surat minat pinjaman US$ 120 juta dari Ex-Im Bank untuk mengembangkan proyek raksasa Tanbreez di Greenland, dengan target konstruksi pada akhir 2026.

Di sisi lain, Gedung Putih juga memanfaatkan dukungan militernya untuk Ukraina dengan menuntut hak akses terhadap mineral kritis negara tersebut sebagai imbalan, menegaskan bahwa komoditas strategis kini menjadi inti dari setiap negosiasi kebijakan luar negeri AS. (SF)