SK Hynix akhiri dominasi 26 tahun Samsung di bursa Korea

Senin, 22 Juni 2026

image

JAKARTA - SK Hynix mengakhiri dominasi Samsung Electronics setelah merebut posisi sebagai perusahaan tercatat paling bernilai di Korea Selatan, didorong lonjakan permintaan chip AI di pasar global.

Lonjakan valuasi SK Hynix didorong oleh posisinya sebagai pemasok utama chip high-bandwidth memory (HBM), komponen krusial untuk sistem kecerdasan buatan (AI) yang digunakan perusahaan teknologi global seperti Nvidia dan Google milik Alphabet.

Seperti dikutip Theedgemalaysia, pada perdagangan Senin, saham SK Hynix melonjak 5,7%, mengangkat kapitalisasi pasarnya menjadi 2.082,5 triliun won atau sekitar US$1,35 triliun. Nilai tersebut melampaui Samsung Electronics yang mencatat kapitalisasi pasar 2.081,3 triliun won, tidak termasuk saham preferen.

Pencapaian tersebut mencerminkan perubahan besar dalam industri semikonduktor global, di mana ledakan AI mengubah chip memori khusus dari sekadar komoditas menjadi komponen strategis yang menopang pengembangan model AI canggih seperti ChatGPT.

Berbeda dengan Samsung yang memiliki portofolio bisnis luas mulai dari chip logika hingga elektronik konsumen seperti smartphone dan televisi, SK Hynix berfokus pada bisnis chip memori.

Samsung sendiri telah mempertahankan posisi sebagai perusahaan publik terbesar di Korea Selatan sejak tahun 2000.

"Kemunculan memori AI yang disesuaikan secara fundamental mengubah ekonomi industri dan memungkinkan SK Hynix untuk memantapkan posisinya sebagai pemimpin pasar," kata analis senior Meritz Securities, Kim Sunwoo.

Samsung menanggapi capaian tersebut dengan menyatakan bahwa perhitungan kapitalisasi pasarnya seharusnya turut memasukkan saham preferen. Jika dihitung secara keseluruhan, nilai pasar Samsung mencapai sekitar 2.252 triliun won.

Kenaikan SK Hynix menjadi salah satu kisah transformasi korporasi terbesar dalam sejarah Korea Selatan.

Pada 2002, perusahaan yang saat itu masih bernama Hynix Semiconductor hampir dijual kepada Micron setelah terbebani utang besar akibat ekspansi agresif.

Transaksi tersebut akhirnya batal dan perusahaan berada di bawah kendali kreditur selama hampir satu dekade.

Pada 2003, harga saham Hynix sempat anjlok ke level 135 won dan dikategorikan sebagai saham murah atau "Dongjeon-ju" di Korea Selatan.

Kinerja perusahaan mulai berbalik arah ketika gelombang investasi AI global meningkat. Setelah membukukan rugi operasi sebesar 7,73 triliun won pada 2023 akibat kejatuhan harga chip memori, SK Hynix bangkit dengan mencatat laba operasi tahunan 23,5 triliun won pada 2024, yang saat itu menjadi rekor tertinggi perusahaan.

Analis menilai keberhasilan SK Hynix tidak lepas dari keputusannya tetap berinvestasi pada teknologi HBM saat industri memori mengalami perlambatan. Teknologi tersebut memungkinkan kinerja pemrosesan AI yang lebih cepat dengan konsumsi daya lebih rendah.

Tidak seperti chip memori konvensional, HBM terintegrasi langsung dengan prosesor AI sehingga menciptakan hambatan masuk yang tinggi bagi pesaing sekaligus memperkuat daya tawar harga produsen.

Pada 2025, SK Hynix menguasai sekitar 61% pasar HBM global, jauh di atas Samsung Electronics yang menguasai 17% dan Micron sebesar 21%.

SK Hynix berdiri pada 1983 sebagai bagian dari Hyundai sebelum dipisahkan dan diakuisisi oleh SK Group. Chairman SK Group, Chey Tae-won, mengungkapkan bahwa akuisisi tersebut dilakukan dengan visi mengubah Hynix dari produsen chip komoditas menjadi pemain inti industri semikonduktor.

“Yang benar-benar ingin saya capai ketika kami mengakuisisi Hynix adalah mengubahnya dari produsen memori komoditas menjadi perusahaan semikonduktor arus utama yang produknya sangat diperlukan,” ujar Chey dalam buku yang diterbitkan pada Januari lalu.

“Di masa lalu, tidak masalah apakah memori itu berasal dari Hynix, Samsung, atau Micron. Mereka adalah produk komoditas yang dapat saling menggantikan. HBM berbeda. Jika HBM SK Hynix diganti dengan produk lain, sistem AI mungkin tidak berfungsi dengan baik. Apa yang dulunya merupakan komponen periferal kini telah menjadi komponen inti,” lanjutnya.

Dominasi SK Hynix juga mulai mengancam posisi Samsung sebagai produsen DRAM terbesar dunia. Bank of America memperkirakan produksi DRAM SK Hynix mencapai sekitar 589.000 wafer per bulan tahun ini, mendekati produksi Samsung yang berada di kisaran 691.000 wafer.

Dalam periode 2025-2028, kapasitas produksi DRAM SK Hynix diproyeksikan tumbuh sekitar 38%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Samsung yang diperkirakan hanya 17,5%.

Kondisi ini berpotensi mempersempit kesenjangan produksi kedua perusahaan menjadi kurang dari 10% pada 2028.

"Sebelumnya, perbedaan skala produksi berarti tidak ada cara bagi para pesaing untuk menutup kesenjangan profitabilitas dengan Samsung," kata Kim.(DH)