Analis tak yakin penghematan MBG perbaiki prospek rupiah

Senin, 22 Juni 2026

image

JAKARTA – Pasar masih meragukan potensi penghematan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat pospek fundamental rupiah menguat, meskipun Indonesia telah merombak pimpinan pengelola program prioritas ini yaitu Badan Gizi Nasional (BGN).

Senior Currency Analyst MUFG, Michael Wan, mengatakan perhatian pasar saat ini tidak lagi fokus pada hiruk-pikuk politik dari kasus korupsi BGN, yang berujung pada penangkapan sejumlah pimpinan dan reformasi tata kelola.

Tetapi para pelaku pasar, kata Wan, kini lebih fokus pada seberapa besar pemerintah Indonesia sanggup menjaga disiplin fiskal setelah kasus tersebut.

“Yang menjadi perhatian pasar dan rupiah di luar kebisingan politik adalah, apakah kasus ini akan menghasilkan disiplin fiskal yang lebih besar, baik melalui anggaran secara langsung maupun pengeluaran di luar anggaran dan kewajiban kontinjensi,” tulis Wan dalam catatan yang disampaikan kepada investor pada Senin (22/6).

Namun sejauh ini, Wan belum melihat perkembangan dari isu MBG akan mengubah karakter belanja pemerintah secara fundamental, sehingga MUFG pun memilih lebih berhati-hati.

“Untuk saat ini kami belum cukup yakin bahwa perkembangan ini akan mengubah sifat program belanja pemerintah secara mendasar … namun perkembangannya perlu terus dipantau ke depan,” ujar Wan.

MUFG menambahkan pergerakan mata uang Asia juga dipengaruhi penguatan dolar Amerika Serikat (AS), serta tingginya imbal hasil US Treasury. Di sisi lain, pasar juga dinilai mencermati arah kebijakan Federal Reserve yang kini dipimpin oleh Kevin Warsh.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 34 poin atau 0,19% ke level Rp17.838 per dolar AS pada perdagangan Senin (22/6) pukul 14.36 WIB.

Sejak pembukaan perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp17.780 hingga Rp17.846 per dolar AS.

Adapun sejak awal tahun, rupiah telah melemah hampir 7% terhadap dolar AS. Penurunan ini membuat rupiah jadi salah satu mata uang dengan kinerja paling buruk di dunia, terhadap dolar AS.

Dari kawasan emerging market Asia Pasifik, mayoritas mata uang juga melemah terhadap dolar AS. Won korea turun paling dalam dengan pelemahan 0,60%. Peso Filipina melemah 0,57%, dan ringgit Malaysia turun0,36%. (KR)