Harga minyak turun usai perundingan AS-Iran di Swiss selesai

Senin, 22 Juni 2026

image

NEW DELHI - Harga minyak dunia turun pada Senin (22/6) setelah perundingan Amerika Serikat dan Iran di Swiss memunculkan prospek tambahan pasokan minyak Iran ke pasar global.

Dikutip dari CNA, pejabat tinggi AS dan Iran menuntaskan putaran pertama perundingan di Swiss pada Senin (22/6).

Pembicaraan tersebut dimulai sehari sebelumnya berdasarkan nota kesepahaman yang dicapai pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata antara kedua pihak selama sedikitnya 60 hari.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran memperoleh kelonggaran ekspor minyak dan petrokimia, pencairan sebagian aset yang dibekukan, serta dimulainya program rekonstruksi dan pembangunan di Iran.

Perkembangan itu dipandang dapat membuka jalan bagi tambahan pasokan minyak Iran ke pasar global.

“Perkembangan seperti ini berpotensi membuka jalan bagi kembalinya hampir 1,5 juta barel minyak mentah Iran per hari ke pasar internasional, sehingga memperbaiki ketersediaan pasokan global meski  saat ini pertumbuhan permintaan masih berada di tingkat moderat,” kata pendiri SS WealthStreet, Sugandha Sachdeva.

Harga minyak Brent turun US$1,68 atau 2,09% menjadi US$78,89 per barel pada pukul 06.33 GMT.

Sebelumnya, harga sempat naik ke US$82,30 pada awal perdagangan, dipicu ketidakpastian seputar perundingan AS-Iran, ancaman Presiden AS Donald Trump untuk melanjutkan perang terhadap Iran, serta pengumuman Teheran bahwa Selat Hormuz kembali ditutup.

Sementara itu, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juli berada di level US$76 per barel, turun 60 sen menjelang jatuh tempo pada Senin (22/6).

Kontrak yang lebih aktif untuk pengiriman Agustus turun 69 sen menjadi US$75,16 per barel. Pada Jumat (19/6), pasar minyak AS tidak mencatat harga penutupan karena libur.

Sachdeva mengatakan penurunan harga minyak terutama dipicu membaiknya prospek terobosan diplomatik antara AS dan Iran, yang memunculkan harapan bahwa sanksi terhadap Iran pada akhirnya dapat dilonggarkan.

 Risiko Pasokan Masih Membayang

 Meski harga minyak melemah, pasar masih mencermati sejumlah risiko yang dapat kembali mengganggu pasokan energi global.

Sebelum perundingan dimulai, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz anjlok tajam pada Minggu (21/6),setelah Iran mengumumkan kembali menutup jalur tersebut dengan alasan adanya pelanggaran oleh Israel dan AS terhadap kesepakatan damai sementara.

 Di Lebanon, serangan Israel pada Sabtu (20/6) telah menewaskan sedikitnya 20 orang.

Menurut kantor berita pemerintah Lebanon NNA. Serangan tersebut terjadi sehari setelah gencatan senjata dengan Hezbollah yang ditunjukkan  untuk menghentikan eskalasi kekerasan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Analis ING menilai jalan menuju kesepakatan yang lebih permanen masih tidak mudah, termasuk karena adanya risiko konflik kembali pecah selama masa gencatan senjata 60 hari.

“Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa upaya menuju kesepakatan yang lebih permanen akan penuh tantangan, dengan risiko nyata terjadinya permusuhan kembali selama masa gencatan senjata 60 hari,” tulis analis ING dalam catatannya.

 Meski demikian, harga minyak telah turun lebih dari 8% sepanjang pekan lalu seiring dengan harapan bertambahnya pasokan dari muatan minyak yang sebelumnya tertahan di kawasan Teluk, serta potensi pelonggaran sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran sebagai bagian dari kesepakatan Washington-Teheran.

Kepala National Iranian Oil Company, Hamid Bovard, mengatakan bahwa lebih dari 25 juta barel minyak Iran telah melewati garis blokade virtual sejak Senin (15/6).

 Pasokan Regional Mulai Bertambah

Sejumlah produsen minyak di kawasan juga mulai menawarkan tambahan pasokan ke pasar.

Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak dilaporkan telah menawarkan lebih banyak minyak kepada pelanggan dalam sepekan terakhir.

Irak bahkan berencana menaikkan produksi minyak mentah secara bertahap ke kisaran 4,2 juta hingga 4,3 juta barel per hari, menurut pernyataan Wakil Menteri Perminyakan Irak untuk urusan hulu pada Minggu (21/6).

Prospek kembalinya ekspor minyak Iran ke pasar, ditambah peningkatan pasokan dari sejumlah produsen di Timur Tengah, menjadi faktor utama yang menekan harga minyak pada awal pekan ini.

Meski demikian, pasar masih mencermati perkembangan perundingan AS-Iran serta situasi keamanan di Lebanon dan Selat Hormuz. (ARF)