Harga bitcoin turun 40% sejak STRC diluncurkan
Senin, 22 Juni 2026
NEW YORK - Harga bitcoin telah turun lebih dari 40% sejak Strategy meluncurkan STRC, instrumen saham preferen yang menjadi salah satu kendaraan utama perusahaan untuk menghimpun dana pembelian bitcoin, pada akhir Juli 2025.
Dikutip dari TradingView, tekanan pada STRC kembali memicu perdebatan soal model pendanaan Strategy. Sejumlah pengkritik, termasuk Peter Schiff, menilai instrumen tersebut menyerupai skema Ponzi terpusat. Namun, analis lain berpendapat bahwa penurunan STRC lebih mencerminkan aksi pelepasan posisi berleverage ketimbang memburuknya fundamental perusahaan.
STRC dirancang untuk diperdagangkan di sekitar nilai par US$100 agar Strategy dapat menerbitkan saham baru dan menghimpun modal untuk membeli lebih banyak bitcoin. Namun, instrumen tersebut kini diperdagangkan dengan diskon cukup dalam, menandakan salah satu saluran pendanaan pembelian bitcoin perusahaan sedang tertekan.
Pada Kamis, STRC sempat menyentuh rekor terendah di US$82,53 sebelum ditutup di US$88,59, masih jauh di bawah nilai pari US$100.
Diluncurkan pada Juli 2025, STRC dirancang agar tetap bergerak dekat nilai pari melalui skema dividen yang dapat disesuaikan. Saat ini, tingkat dividen tahunannya berada di kisaran 11,5%, sementara dana yang dihimpun terutama digunakan untuk membeli bitcoin.
Melebarnya diskon terhadap nilai pari telah mendorong imbal hasil efektif STRC ke atas 12,9% dan berkontribusi pada penghentian sementara penerbitan saham melalui skema at-the-market. Kondisi ini berisiko memperlambat mesin penghimpunan modal di balik strategi treasury bitcoin Strategy, yang saat ini memegang lebih dari 846.000 bitcoin.
Dalam dunia keuangan, flywheel merujuk pada model bisnis yang saling menguatkan, ketika pertumbuhan pada satu sisi langsung mendorong pertumbuhan di sisi lain sehingga momentum terus membesar.
Namun, ketika STRC diperdagangkan sekitar 13% di bawah nilai pari, model pendanaan Strategy kembali menuai kritik.
Pengkritik bitcoin Peter Schiff berulang kali menyebut STRC sebagai “skema Ponzi terpusat klasik” karena, menurutnya, instrumen itu bergantung pada kemampuan Strategy menghimpun modal baru lewat penjualan saham tambahan atau menjual bitcoin untuk memenuhi kewajibannya.
Trader kripto DonAlt juga mempertanyakan pergerakan harga STRC, dengan menilai instrumen itu diperdagangkan “seperti Ponzi” setelah anjlok tajam di bawah nilai pari.
Hingga kini, Strategy belum menanggapi kritik tersebut secara langsung. Dalam pernyataan terbarunya, perusahaan tetap memosisikan STRC sebagai instrumen ekuitas preferen yang ditopang strategi treasury berbasis bitcoin.
Meski demikian, perusahaan telah mengubah jadwal pembayaran dividen STRC menjadi dua kali sebulan, dari sebelumnya sekali sebulan.
Pembelian Bitcoin MelambatLaju akumulasi bitcoin Strategy juga melambat tajam seiring STRC diperdagangkan di bawah nilai pari.
Perusahaan membeli 1.550 bitcoin senilai US$101 juta pada pekan yang berakhir 8 Juni, lalu menambah 1.587 bitcoin senilai US$100 juta pada pekan yang berakhir 15 Juni. Dengan tambahan tersebut, total kepemilikan bitcoin Strategy naik menjadi 846.842 bitcoin.
Meski tetap tergolong pembelian besar, nilainya jauh lebih kecil dibandingkan pembelian mingguan Strategy pada awal 2026.
Sebagai perbandingan, pada April perusahaan sempat membeli 34.164 bitcoin senilai US$2,54 miliar hanya dalam satu pekan. Pada Mei, Strategy kembali menambah 24.869 bitcoin senilai sekitar US$2,01 miliar. Sementara itu, sepanjang Juni, tambahan pembelian mingguannya hanya berada di kisaran US$100 juta.
Perlambatan tersebut juga bertepatan dengan penjualan kecil 32 bitcoin pada awal Juni senilai sekitar US$2,5 juta untuk membantu memenuhi kewajiban pembayaran dividen.
Nilainya memang sangat kecil dibandingkan total cadangan bitcoin Strategy, tetapi langkah itu menunjukkan kewajiban kas tetap dapat memaksa perusahaan menjual sebagian bitcoin ketika pendanaan yang ditopang STRC menjadi kurang efisien.
Head of Bitcoin Strategy The Smarter Web Company, Jesse Myers, menilai aksi jual STRC lebih mencerminkan pelepasan posisi berleverage daripada penurunan fundamental Strategy. “Strategy baik-baik saja,” kata Myers dalam unggahan pada Kamis.
Menurut dia, jika kondisinya tidak berubah, perusahaan masih mampu membayar dividen STRC selama 32 tahun. Bahkan, pembayaran itu dapat dipertahankan tanpa batas waktu jika harga bitcoin naik sekitar 2% per tahun.
Myers menjelaskan, pergerakan STRC yang lama bertahan di kisaran US$99 hingga US$100 mendorong sebagian investor memakai leverage tinggi, dengan asumsi harga instrumen itu tidak akan turun di bawah US$95. Ketika harga mulai melemah, margin call dan aksi jual paksa mempercepat penurunan.
Di sisi lain, analis Scott Melker menilai diskon STRC justru bisa menarik investor yang mencari imbal hasil. Dalam unggahannya pada Minggu, ia menekankan dividen STRC didasarkan pada nilai likuidasi US$100, bukan harga pasar.
Dengan tingkat dividen 11,5%, investor yang membeli STRC di harga US$90 bisa memperoleh imbal hasil sekitar 12,8%, sedangkan pembelian di harga US$85 berpotensi memberikan imbal hasil sekitar 13,5%.
Pada harga saat ini, STRC menawarkan imbal hasil efektif sekitar 13%. Strategy diperkirakan akan mengumumkan tingkat dividen berikutnya pada 30 Juni, sambil tetap memiliki opsi lain—termasuk penerbitan saham MSTR dan penggunaan cadangan kas—untuk mendanai pembelian bitcoin. (ARF)