Satelit deteksi El Niño 2026 kian menguat di Pasifik

Senin, 22 Juni 2026

image

WASHINGTON - Fenomena El Niño kembali terjadi pada Juni 2026, ditandai dengan suhu permukaan laut yang lebih hangat dari normal di sejumlah wilayah Samudra Pasifik Ekuator. Pengamatan satelit menunjukkan fenomena tersebut masih terus menguat.

Dikutip dari Phys.org, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) pada 11 Juni 2026 menetapkan El Niño setelah suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Pasifik ekuator berada setidaknya 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata selama beberapa bulan berturut-turut.

Fenomena alam yang terjadi secara berkala ini dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia. El Niño umumnya membawa curah hujan lebih tinggi ke wilayah barat daya Amerika Serikat, tetapi meningkatkan risiko kekeringan di kawasan Pasifik barat seperti Indonesia dan Australia.

Selain memantau suhu permukaan laut, ilmuwan NASA juga mengamati indikator lain yang berkaitan dengan El Niño, yakni kenaikan dari tinggi permukaan laut di beberapa bagian Pasifik Ekuator.

Ketika suhu air laut meningkat, volumenya ikut mengembang sehingga permukaan laut naik. Karena itu, kenaikan tinggi permukaan laut di sejumlah wilayah Pasifik ekuator menjadi salah satu indikator penguatan El Niño.

Peta pengamatan per 8 Juni 2026 menunjukkan anomali tinggi permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik. Area berwarna merah menandakan permukaan laut yang lebih tinggi dari rata-rata, sedangkan warna putih menunjukkan kondisi normal dan warna biru menandakan permukaan yang lebih rendah dari rata-rata.

Data tersebut diperoleh dari satelit Sentinel-6 Michael Freilich, yang diluncurkan pada 2020 oleh NASA dan dipimpin European Space Agency (ESA), lalu diolah oleh ilmuwan di Jet Propulsion Laboratory (JPL) milik NASA.

Untuk memudahkan pengamatan anomali permukaan laut yang berkaitan dengan El Niño dan fenomena alam jangka pendek lainnya, para peneliti menghilangkan pengaruh siklus musiman dan tren jangka panjang dari data tersebut.

Gelombang Kelvin 

Pada awal musim semi 2026, satelit mulai mendeteksi tanda-tanda awal El Niño melalui gelombang air hangat berukuran ratusan mil, yang dikenal sebagai gelombang Kelvin, bergerak dari Pasifik barat ke Pasifik timur.

Gelombang ini biasanya muncul ketika angin pasat di Pasifik ekuator bagian barat melemah, lalu sementara berbalik arah dan bertiup dari barat. Kondisi tersebut mendorong penumpukan air hangat di Pasifik timur, memperdalam lapisan air hangat di permukaan, menurunkan termoklin, dan menekan proses upwelling yang biasanya menjaga perairan di sepanjang pesisir Pasifik benua Amerika tetap lebih dingin.

 Penumpukan panas di bawah permukaan laut itulah yang terekam dalam pengamatan tinggi permukaan laut. Dengan demikian, data ini tidak hanya menunjukkan perubahan suhu permukaan, tetapi juga menggambarkan besarnya cadangan panas yang tersimpan di bawah permukaan laut.

Hal itu penting karena lapisan air hangat yang dangkal belum tentu berdampak besar terhadap iklim dan cuaca, sementara cadangan panas yang lebih besar di bawah permukaan dapat memberikan pengaruh yang jauh lebih signifikan.

Peneliti muka laut JPL sekaligus Deputy Project Scientist Sentinel-6, Michael Freilich, dan Severine Fournier, mengatakan kondisi di Pasifik Barat pada 8 Juni 2026 terlihat mirip dengan situasi pada periode yang sama pada 1997, tahun ketika El Niño yang sangat kuat mulai berkembang.

Namun, pemanasan di Pasifik Timur pada 2026 masih tertinggal dibandingkan dengan pola pada 1997, karena jumlah gelombang Kelvin hangat yang terbentuk hingga tanggal tersebut masih lebih sedikit.

Meski demikian, gelombang Kelvin hangat tambahan terlihat mulai bergerak menuju Pasifik Timur, yang menandakan El Niño masih dalam fase penguatan.

Menurut Fournier, apakah El Niño tahun ini akan menyamai kekuatan peristiwa 1997 akan sangat bergantung pada aktivitas lautan dalam beberapa pekan ke depan.

“Untuk saat ini, fenomena ini terlihat akan menjadi El Niño yang besar—lebih besar dibanding perkiraan saya pekan lalu—tetapi kami masih membutuhkan lebih banyak pengamatan untuk mengetahui bagaimana perkembangannya,” ujarnya. (ARF)