Bach Multi Global siap debut, jadi bagian Grup Djarum usai IPO

Senin, 22 Juni 2026

image

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kedatangan emiten pemasok genset PT Bach Multi Global Tbk (BACH), yang siap menawarkan 615 juta lembar sahamnya kepada publik (initial public offering/IPO) bernominal Rp50 per lembar.

Digawangi PT Erdikha Elit Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek (underwriter), jumlah saham yang ditawarkan BACH setara dengan 15,06% total modal ditempatkan dan disetor Perseroan pasca-IPO.

Dengan kisaran harga penawaran antara Rp400-500 per lembar, maka BACH diproyeksi meraup dana IPO sebanyak-banyaknya Rp307,5 miliar.

Menurut prospektus awal Perseroan, sekitar Rp231,48 miliar akan digunakan BACH untuk modal kerja, yaitu untuk membeli sekitar 44 unit genset yang akan dijual atau disewakan pada klien.

Sementara itu, sekitar Rp91,02 miliar akan digunakan untuk pembayaran sebagian utang Omnibus Revolving Loan jangka panjang kepada PT Bank Permata Tbk (BNLI).

Sebagai catatan, kini pemegang saham BACH terdiri dari:

  • PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI) – 61,55%
  • PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) – 30%
  • Budi Kurniawan – 2,01%
  • Hartanto Rahardja – 1,8%
  • Edy Surianto – 1,59%
  • Zulfahmi Fithri – 1,53%
  • Hasby Jap – 1,52%

Berdasarkan penelusuan IDNFinancials, GTP adalah salah satu anak usaha entitas Djarum, PT iForte Solusi Infotek (iForte), yang mengakuisisi 98,21% saham GTP per Juli 2023 lalu.

Prospektus awal IPO BACH juga menyebutkan bahwa BMSI dan GTP telah menandatangani perjanjian opsi pada 7 Januari 2026 lalu, yang mewajibkan BMSI menjual sahamnya melalui hak opsi kepada GTP.

Pada 13 Januari 2026, GTP menyatakan akan melaksanakan hak opsi atas 1,04 miliar lembar saham BMSI tersebut – tak lebih dari 5 hari setelah pencatatan saham BACH di BEI. Hal ini akan membawa kepemilikan GTP di BACH melonjak menjadi 51%.

Aktivitas usaha BACH

Sebagai catatan, BACH merupakan agen tunggal genset merek Himoinsa di Indonesia, serta memasarkan berbagai merek genset lain seperti Austin Power System.

Perseroan kini memasarkan genset berbahan bakar diesel, bensin, dan gas dengan berbagai kapasitas, mulai dari 7 kVA hingga 3.000 kVA, atau sesuai kapasitas yang dibutuhkan pelanggannya.

Beberapa klien BACH adalah BUMN seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), hingga perusahaan swasta seperti PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).

“Perseroan bergantung pada pemasok luar negeri untuk pemenuhan kebutuhan produk dan komponen utama, yaitu Himoinsa Asia Pacific Pte. Ltd. dan Guangdong Westinpower Co. Ltd.,” jelas Perseroan dalam prospektus awal IPO-nya.

Di sisi lain, BACH juga memiliki lini bisnis konstruksi infrastruktur telekomunikasi, termasuk aktivitas membangun menara BTS hingga jaringan fiber optik, serta jasa pemeliharaan.

Beberapa klien utamanya termasuk emiten Grup Djarum, seperti Protelindo Group, PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), serta PT Link Net Tbk (LINK) dan Indosat.

BACH mencatatkan pendapatan yang konsisten naik dalam tiga tahun terakhir, menyentuh Rp1,73 triliun per akhir 2025, berkat kontribusi lini bisnis penyediaan genset yang melonjak lebih dari dua kali lipat di tahun 2025 menjadi Rp977,96 miliar.

Dari segi bottom line, laba tahun berjalannya turut melonjak nyaris dua kali lipat secara tahunan menjadi Rp155,5 miliar per Desember 2025.

BACH sendiri mencatatkan total aset Rp1,23 triliun per Desember 2025, dengan total liabilitas Rp696,68 miliar. (ZH)