China perketat indium, rantai pasok AI global tertekan

Selasa, 23 Juni 2026

image

JAKARTA - China memperketat pengawasan ekspor indium, logam penting untuk industri semikonduktor dan pusat data kecerdasan buatan (AI), memicu kekhawatiran pelaku pasar bahwa komoditas tersebut berpotensi masuk dalam daftar kontrol ekspor Beijing.

Seperti dikutip Businesstimes, China diketahui memproduksi hampir 70% pasokan indium global, yang merupakan hasil sampingan dari pemurnian seng. Selama ini, logam tersebut banyak digunakan pada layar dan solder, namun kini semakin strategis karena menjadi bahan baku indium phosphide untuk chip optik berkecepatan tinggi di pusat data AI.

Beijing sebelumnya telah memasukkan indium phosphide ke dalam daftar kontrol ekspor pada Februari 2025.

Kebijakan tersebut dinilai sudah cukup mengganggu pengembangan infrastruktur AI global dan memicu respons dari pelaku industri semikonduktor.

Namun, indium metal sendiri belum resmi masuk dalam daftar kontrol ekspor. Meski begitu, sejumlah pelaku industri melaporkan adanya peningkatan pemeriksaan oleh otoritas bea cukai China.

“Meskipun logam indium tidak termasuk dalam daftar kontrol ekspor, dua pembeli mengatakan kepada Reuters tentang meningkatnya pengawasan terhadap pembelian mereka dari bea cukai Tiongkok. Untuk pertama kalinya tahun ini, seorang pembeli Eropa diminta untuk mengungkapkan informasi tentang pengguna akhir, termasuk di mana mereka berlokasi.”

Seorang pembeli di Amerika Utara juga menyebut proses persetujuan ekspor kini lebih lambat dibanding sebelumnya.

“Seorang pembeli besar di Amerika Utara mengatakan bahwa persetujuan yang sebelumnya diproses dalam satu hari kini memakan waktu beberapa hari, yang menurut mereka disebabkan oleh pemeriksaan dokumen yang lebih teliti dan digambarkan sebagai ‘situasi yang menegangkan’.”

Meski belum ada larangan ekspor, sebagian pelaku pasar menilai langkah tersebut sebagai sinyal awal pengetatan lebih lanjut terhadap komoditas strategis.

“Pembeli Amerika Utara lainnya mengatakan bahwa mereka menduga persyaratan pelaporan tersebut merupakan ‘pendahulu dari pembatasan atau larangan ekspor secara langsung’.”

Sementara itu, sebagian pembeli lainnya menyebut belum mengalami dampak langsung, namun tetap mencermati perkembangan kebijakan Beijing yang dinilai dapat memengaruhi rantai pasok global.

Di sisi lain, Amerika Serikat dilaporkan mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan pasokan indium. Defense Logistics Agency AS bahkan telah mengajukan rencana penimbunan hingga 403 ton material tersebut dalam tiga tahun ke depan.(DH)