Perang Iran picu perlombaan bangun cadangan minyak

Selasa, 23 Juni 2026

image

LONDON - Perang Iran mendorong banyak negara yang paling rentan terhadap guncangan energi untuk memperbesar cadangan minyak dan gas domestik guna menghadapi potensi krisis serupa di masa depan.

Dikutip dari Reuters, dorongan membangun cadangan pasokan energi tersebut berpotensi menciptakan tambahan permintaan sekitar setengah miliar barel minyak dan produk turunannya dalam beberapa tahun ke depan.

 Ketika Selat Hormuz nyaris ditutup total selama lebih dari tiga bulan, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global sempat terhenti. Gangguan tersebut mengguncang pasar energi dan sempat mendorong harga minyak Brent mendekati harga US$120 per barel.

 Namun, dampaknya dinilai bisa jauh lebih parah jika dunia tidak memiliki cadangan darurat yang dapat segera dilepas ke pasar.

 Cadangan darurat jadi penyangga utama

 Pada awal konflik, seluruh 32 negara anggota International Energy Agency (IEA) sepakat melepas cadangan minyak strategis atau strategic petroleum reserves (SPR) dalam jumlah tertinggi sepanjang sejarah, yakni 400 juta barel. Amerika Serikat menyumbang porsi terbesar dalam pelepasan cadangan tersebut.

 Pelepasan tersebut menjadi yang keenam sejak IEA berdiri dan kembali menegaskan pentingnya cadangan darurat energi. Kebijakan itu berakar dari respons negara-negara maju terhadap embargo minyak Arab 1973, yang kemudian melahirkan kewajiban bagi anggota IEA untuk menyimpan stok darurat setara sedikitnya 90 hari impor bersih.

Tiongkok juga menunjukkan betapa  pentingnya untuk memiliki cadangan energi strategis. Meski bukan anggota penuh IEA, negara itu selama bertahun-tahun membangun cadangan minyak strategis yang diyakini menjadi salah satu yang terbesar di dunia, dengan total lebih dari 1 miliar barel.

Cadangan tersebut memungkinkan Tiongkok memangkas impor minyak mentah lebih dari sepertiga selama perang. Meski tidak seluruh penurunan impor itu dipastikan berasal dari pelepasan stok, langkah Beijing menunjukkan bahwa negara tersebut memiliki ruang untuk mengandalkan cadangan saat pasokan global ketat dan harga melonjak.

Dengan mengurangi pembelian saat pasokan global ketat dan harga minyak tinggi, Tiongkok dinilai mampu menghemat miliaran dolar sekaligus meredam tekanan terhadap perekonomiannya. Langkah itu kontras dengan sejumlah negara Asia lain yang masih bergantung pada Timur Tengah untuk sekitar 60% impor energi mereka.

Tekanan paling besar dirasakan oleh India, Pakistan, Thailand, dan sejumlah negara lain yang memiliki cadangan domestik terbatas. Karena tidak memiliki stok darurat yang memadai, pemerintah di negara-negara tersebut terpaksa menempuh berbagai langkah penghematan, mulai dari subsidi, pembatasan konsumsi bahan bakar, pengurangan jam kerja, hingga kebijakan penghematan energi lainnya.

Reuters meencatat  banyak negara importir yang rentan akan memperbesar cadangan minyak strategis mereka jika kondisi fiskal memungkinkan. Sementara negara yang tidak memiliki ruang anggaran untuk membangun stok besar kemungkinan akan lebih mengandalkan langkah penghematan konsumsi saat krisis.

India menjadi salah satu negara yang paling membutuhkan penambahan cadangan strategis. Negara dengan populasi terbesar di dunia itu merupakan importir minyak terbesar ketiga dan importir liquefied petroleum gas (LPG) terbesar kedua untuk kebutuhan rumah tangga. Menurut IEA, India juga diperkirakan akan menjadi negara denganpermintaan minyak global terbesar hingga 2030.

Namun, India bukan anggota penuh IEA dan tidak ikut dalam pelepasan cadangan terkoordinasi selama perang.

Saat ini, cadangan minyak strategis India hanya cukup untuk sekitar delapan hari impor. Untuk memenuhi standar IEA yang setara 90 hari impor, India membutuhkan tambahan lebih dari 400 juta barel, dengan biaya sekitar US$28 miliar jika harga minyak berada di level US$70 per barel.

 India kini dinilai mulai bergerak untuk menambah cadangan minyak.Harian Economic Times melaporkan pemerintah India meminta Oil and Natural Gas Corporation (ONGC) membangun cadangan baru berkapasitas 1,75 juta ton atau hampir 13 juta barel, yang berpotensi menambah kapasitas penyimpanan darurat negara itu sekitar sepertiga.

 Pakistan berada dalam posisi serupa. Sebelum perang, sekitar 90% impor minyak dan LNG negara tersebut berasal dari Timur Tengah. Kini Islamabad juga mulai mempertimbangkan untuk memperluas fasilitas penyimpanan domestik. Untuk membangun cadangan setara 90 hari impor, Pakistan diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 35 juta barel.

 Australia, satu-satunya anggota penuh IEA yang secara konsisten gagal memenuhi kewajiban cadangan strategis lembaga itu, juga telah mengumumkan rencana belanja sebesar US$7 miliar untuk menambah stok bahan bakar hingga setara sedikitnya 50 hari kebutuhan.

 Negara-negara lain, termasuk Singapura yang merupakan pusat pengilangan minyak terbesar di Asia, juga disebut tengah mempertimbangkan pembangunan atau melakukan perluasan fasilitas penyimpanan minyak dan gas strategis.

 Di Eropa, sistem penyimpanan gas sebenarnya sudah cukup luas untuk mengelola lonjakan permintaan musiman, terutama pada musim dingin. Namun, karena impor LNG kini menyumbang lebih dari 40% pasokan gas kawasan tersebut—dan lebih dari 60% impor itu berasal dari Amerika Serikat—Eropa dinilai bisa saja memilih menambah fasilitas penyimpanan yang dikendalikan oleh pemerintah.

 Bahkan negara produsen energi juga bergerak ke arah serupa. Perusahaan-perusahaan minyak nasional di kawasan Teluk mulai mencari tambahan fasilitas penyimpanan di luar wilayah mereka demi menjaga fleksibilitas ekspor ketika krisis terjadi.

 Saudi Aramco, misalnya, yang saat ini sudah mengoperasikan fasilitas penyimpanan di Jepang, Korea Selatan, Mesir, dan Eropa barat laut, dan memberi sinyal untuk  mempertimbangkan ekspansi lebih lanjut.

 Secara keseluruhan, rencana-rencana baru tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 500 juta barel minyak mentah dan produk olahan untuk mengisi fasilitas penyimpanan baru.

 Di saat yang sama, cadangan global yang terkuras selama perang juga perlu diisi ulang. IEA memperkirakan sekitar 400 juta barel telah ditarik dari stok global sejak perang dimulai, dan penarikan kemungkinan masih berlanjut sepanjang musim panas meski Selat Hormuz kembali dibuka.

 Jika digabungkan, tambahan kebutuhan dari pembangunan cadangan baru dan pengisian ulang stok lama dapat mencapai sekitar 1 miliar barel. Walaupun prosesnya kemungkinan berlangsung selama beberapa tahun, tambahan permintaan sebesar itu tetap berpotensi menopang harga minyak.

 Waktu pelaksanaannya dinilai cukup mendukung. IEA memperkirakan pasokan minyak global akan melonjak tahun depan seiring pulihnya produksi Timur Tengah, bahkan berpotensi melampaui permintaan lebih dari 4 juta barel per hari. Dalam situasi seperti itu, lonjakan permintaan akibat pembangunan cadangan kemungkinan tidak akan langsung memicu lonjakan harga minyak mentah.

Namun, kondisi tersebut bisa berubah jika pemulihan pasokan dari Teluk berjalan lebih lambat dari perkiraan, baik karena gangguan logistik maupun terganggunya keseimbangan geopolitik di Timur Tengah.

Dalam jangka panjang, dorongan memperbesar cadangan energi ini dinilai akan mengubah dinamika pasar minyak global. Dunia dengan cadangan strategis yang jauh lebih besar mungkin akan lebih tahan terhadap guncangan pasokan, sehingga gejolak harga dapat lebih terkendali dari waktu ke waktu.

 Dengan cadangan yang lebih besar,, negara-negara seperti India juga berpotensi mengurangi pembelian saat pasokan sedang terbatas, seperti yang dilakukan Tiongkok, sehingga lonjakan harga bisa diredam.

 Bagi negara-negara pengimpor, pelajaran dari krisis Hormuz dinilai sangat jelas: gangguan yang sebelumnya dianggap mustahil tetap bisa terjadi, berlangsung lebih lama dari perkiraan, dan dampaknya akan paling besar bagi negara yang tidak memiliki cadangan penyangga. (ARF)