Goldman Sachs: Konflik Timur Tengah & El Nino ancam harga pangan ASEAN
Selasa, 23 Juni 2026
JAKARTA - Asia Tenggara kemungkinan akan menghadapi guncangan pasokan pangan, karena harga makanan akan menjadi lebih mahal akibat kenaikan harga minyak dan pupuk yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, serta paparan terhadap potensi kuatnya fenomena El Niño pada akhir 2026, menurut laporan Goldman Sachs.
“Guncangan minyak dari konflik Timur Tengah telah tercermin dalam item CPI yang sensitif terhadap bahan bakar, dan kenaikan harga pupuk akan meningkatkan biaya input pertanian,” kata Goldman, seraya menambahkan bahwa hal ini akan memaksa pemerintah di kawasan tersebut untuk mempertimbangkan kembali trade-off antara pangan dan energi.
“Potensi El Niño yang kuat pada akhir 2026 dapat menciptakan guncangan pasokan pangan lain, tepat ketika tekanan minyak dan pupuk masih merambat ke rantai makanan,” tambah bank investasi tersebut.
Seperti dikutip CNBC, di antara negara-negara Asia Tenggara, bank tersebut memperkirakan Singapura dan Filipina akan paling langsung terdampak guncangan harga pangan global karena posisi mereka sebagai negara pengimpor pangan bersih.
Negara-negara Asia Tenggara lainnya juga tetap rentan terhadap guncangan harga pangan.
Meskipun Malaysia dan Indonesia tampak lebih terlindungi karena industri minyak sawitnya, keduanya tetap menjadi pengimpor pangan bersih jika sektor minyak sawit tidak diperhitungkan, demikian laporan tersebut.
Di Thailand, lebih dari 90% pupuk diimpor, yang membuat negara tersebut rentan terhadap guncangan harga pangan global melalui kenaikan harga input pertanian, catat Goldman.
Kekurangan bahan bakar akibat perang Iran kemungkinan juga akan tercermin dalam harga pangan.
Karena energi merupakan input produksi utama dan biaya transportasi untuk komoditas seperti pangan, fluktuasi harga minyak dengan cepat diteruskan ke seluruh rantai pasokan, menurut makalah London School of Economics and Political Science.
Gangguan pasokan minyak yang berlanjut juga dapat semakin meningkatkan harga pupuk dari Timur Tengah dan berpotensi memengaruhi ketersediaannya, menurut laporan OECD.
“Hal ini dapat memengaruhi musim tanam dan panen pada 2026 dan 2027, menurunkan hasil panen dan berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dalam jangka waktu tertentu,” demikian laporan tersebut.
Laporan Goldman memperkirakan bahwa gabungan guncangan dari volatilitas minyak, pupuk, dan dampak El Niño akan menambah inflasi pangan Asia Tenggara sekitar 1 poin persentase setelah enam bulan, dan 2,1 poin persentase setelah 12 bulan, sebelum mereda menjadi 2 poin persentase dalam 18 bulan.
“Estimasi ini harus dibaca sebagai tekanan tambahan di atas tren inflasi pangan normal, bukan sebagai proyeksi total inflasi pangan,” tambahnya. (DK)