Selat Hormuz krisis, Arab Saudi tingkatkan pembelian fuel oil Rusia
Selasa, 23 Juni 2026
RIYADH - Arab Saudi terus membeli dalam volume besar fuel oil dari Rusia setelah krisis Selat Hormuz memaksa gangguan produksi minyak dan gas, serta mengurangi pasokan domestik untuk pembangkit listrik di tengah suhu yang meningkat.
Menurut laporan Reuters pada Senin, pengiriman fuel oil dan vacuum gasoil (VGO) dari Rusia turun sekitar 6% pada Mei dibandingkan April, akibat serangan Ukraina yang terus menargetkan infrastruktur energi Rusia, berdasarkan data pengiriman LSEG dan pelaku pasar.
Seperti dikutip OILPRICE, meski ekspor fuel oil Rusia secara keseluruhan turun menjadi sekitar 3,2 juta metrik ton pada bulan lalu, Arab Saudi tetap menjadi pembeli terbesar dengan pangsa lebih dari sepertiga total pengiriman.
Volume pembelian Saudi tercatat 1,23 juta ton pada Mei, turun 17% dibanding April, namun masih berada pada level tinggi dibanding periode sebelum perang.
Arab Saudi, sebagai eksportir minyak mentah terbesar dunia, mulai menjadi pembeli utama fuel oil Rusia sejak dua tahun lalu, setelah embargo penuh Uni Eropa terhadap produk minyak Rusia diberlakukan pada 2023.
Sejak saat itu, Saudi secara konsisten mempertahankan pembelian fuel oil dalam jumlah besar dari Rusia.
Namun, impor meningkat tajam pada Maret 2026, naik 18% dari Februari, setelah perang Iran dan krisis Hormuz mengganggu produksi minyak dan gas di kawasan Timur Tengah. Untuk memenuhi kebutuhan listrik, Saudi yang banyak menggunakan pembakaran langsung minyak mentah beralih ke fuel oil Rusia yang tidak lagi disanksi oleh AS selama konflik berlangsung.
Dengan mengimpor fuel oil dari Rusia, Arab Saudi dapat mengalihkan lebih banyak minyak mentahnya untuk ekspor, melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah yang tidak bergantung pada Selat Hormuz.
Dalam beberapa minggu setelah penutupan Selat Hormuz, Saudi juga meningkatkan aliran minyak melalui pipa East-West dari sekitar 2 juta barel per hari menjadi 7 juta barel per hari, guna menjaga kelancaran ekspor melalui jalur Laut Merah meskipun Selat Hormuz ditutup.
***
Fuel oil adalah bahan bakar minyak berat yang berasal dari sisa penyulingan minyak mentah (residual fuel) atau hasil campuran beberapa fraksi minyak bumi. Bentuknya lebih kental dan lebih murah dibandingkan bensin, solar, atau avtur. Fuel oil umumnya digunakan untuk: pembangkit listrik, kapal laut besar, boiler industry dan beberapa pabrik yang membutuhkan panas dalam jumlah besar.
Vacuum Gas Oil (VGO) adalah fraksi minyak yang diperoleh dari proses vacuum distillation (penyulingan dalam tekanan rendah).
VGO biasanya bukan bahan bakar akhir, melainkan bahan baku kilang yang kemudian diproses lebih lanjut (misalnya melalui fluid catalytic cracking) menjadi: bensin, diesel, jet fuel, dan produk minyak lainnya.