Kuliner Indonesia kembali curi perhatian di Singapura

Selasa, 23 Juni 2026

image

SINGAPURA - Jaringan restoran asal Indonesia, Sederhana, membuka gerai di bekas lokasi Warong Nasi Pariaman di North Bridge Road, Singapura, lima bulan setelah rumah makan nasi padang legendaris itu tutup usai beroperasi selama 78 tahun.

Dikutip dari TheStraitsTimes, kehadiran Sederhana Singapore di lokasi tersebut kembali menyorot kuliner Indonesia di Singapura, di tengah gelombang pembukaan gerai baru oleh para pelaku usaha makanan Indonesia maupun pemain lokal yang mengusung cita rasa Nusantara.

Di antaranya adalah Kios Minang, lini fast-casual dari jaringan restoran warisan Rumah Makan Minang, serta gerai kedua Kulon yang menjual bakmi asal Indonesia di New Bahru.

Atase perdagangan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura, Billy Anugrah, mengatakan makanan Indonesia sebenarnya telah lama diapresiasi di Singapura, tetapi visibilitasnya masih terbatas karena tersebar di antara restoran warisan dan sajian hawker seperti ayam penyet serta mie ayam.

Namun, Billy menilai lanskap kuliner Indonesia di Singapura mulai berubah seiring bertambahnya pelaku usaha yang menjangkau konsumen baru.

Sejak 2023, ia ikut membangun chapter Rasa Indonesia Singapore yang menghimpun pemilik usaha makanan dan minuman Indonesia di Singapura dengan dukungan KBRI dan Kementerian Perdagangan. Inisiatif itu kini beranggotakan sekitar 29 pelaku usaha yang mewakili sekitar 60 gerai.

Billy menilai meningkatnya popularitas kuliner Indonesia didorong oleh sejumlah faktor, mulai dari meningkatnya warga Singapura bepergian ke berbagai destinasi di Indonesia seperti Bali, Jakarta, dan Bandung setelah pandemi Covid-19, meningkatnya visibilitas hidangan seperti rendang di media sosial, hingga munculnya generasi baru pelaku usaha Indonesia yang memiliki branding yang  kuat, sistem yang lebih rapi, dan keberanian untuk berekspansi.

“Masakan Indonesia selalu menjadi hidangan kelas dunia, hanya saja sisi bisnisnya selalu berkembang belakangan,” kata Billy.

Sederhana Singapore melakukan soft opening pada 29 Mei 2026 dan grand opening pada 14 Juni 2026. Bagi salah satu pemiliknya, Asyraf Rasheed, 33 tahun, menempati lokasi yang sebelumnya dihuni Warong Nasi Pariaman sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar.

“Menempati lokasi ini menjadi kehormatan tersendiri, tetapi juga membawa tanggung jawab besar,” ujarnya.

Untuk menjaga rasa rendang dan ayam pop tetap mendekati versi asli Sederhana di Indonesia, gerai ini mendatangkan bumbu langsung dari Indonesia. Menurut Asyraf, langkah itu memang menambah biaya, tetapi dinilai penting agar gerai milik keluarga Muslim tersebut tetap setia pada resep Sederhana.

Sederhana didirikan di Indonesia pada 1972 dan kini memiliki lebih dari 200 gerai di Indonesia. Jaringan ini juga sudah memiliki tiga gerai di Malaysia dan berencana membuka cabang di Melbourne dan  Singapura, Asyraf menjadi pemegang waralaba eksklusif Sederhana.

Sejak akhir Januari, ia kerap bolak-balik Jakarta sebanyak empat hingga lima kali dalam sebulan untuk menuntaskan kerja sama waralaba dengan pemilik generasi ketiga Sederhana. Pada Me 2026i, ia juga membawa tiga juru masak ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan intensif selama 10 hari.

Meski gerai-gerai Sederhana di Indonesia umumnya menyajikan setidaknya 50 menu, Sederhana Singapore untuk sementara hanya menawarkan sekitar 30 hidangan demi menjaga kualitas sekaligus melihat respons konsumen. Dua menu andalannya adalah Beef Rendang dibaderol seharga S$6 dan Ayam Pop seharga S$6.

Asyraf bukan orang baru di industri makanan dan minuman. Setelah sempat bekerja sebagai pelayan, bartender, dan pencuci piring sejak usia 16 tahun, lulusan diploma ilmu farmasi dari Republic Polytechnic itu sempat bekerja sebagai bioteknolog selama dua tahun sebelum terjun sepenuhnya ke bisnis F&B.

Pada usia 25 tahun, ia membuka The Halal Corner, dan kini juga terlibat dalam Brunch Club di Jalan Pisang serta Smashed Burger di Baghdad Street.

Kios Minang

Kios Minang menjadi langkah terbaru Rumah Makan Minang untuk menjangkau konsumen baru, terutama generasi muda. Direktur sekaligus Executive Chef Rumah Makan Minang, Mohamad Ariff Mohamad Zin, mengatakan konsep fast-casual ini dirancang untuk memperkenalkan nasi padang dengan pendekatan yang lebih segar.

Menurut Ariff, gerai yang dibuka di New Bahru pada 28 April 2026 itu memungkinkan Rumah Makan Minang menjangkau konsumen muda tanpa harus membuka restoran layanan penuh yang membutuhkan modal jauh lebih besar.

Kios Minang dibangun dengan investasi sekitar S$80.000, lebih rendah dibandingkan kebutuhan modal restoran penuh yang bisa mencapai sedikitnya S$300.000. Gerai itu diperasikan oleh tiga pegawai penuh waktu dan satu pegawai paruh waktu.

Kios Minang memasok bahan baku dari dapur pusat bersertifikat halal milik Rumah Makan Minang di Bedok dan menyajikan sekitar 20 menu setiap harnyai.

Salah satu menu terlarisnya adalah Padang Wrap seharga S$12, yang berisi campuran nasi merah dan beras cokelat, suwiran rendang sapi, pico de gallo, kuah gulai, dan sambal belado, serta disajikan bersama keripik singkong.

Menu tersebut tidak tersedia di Rumah Makan Minang karena dinilai kurang sesuai dengan konsep restoran tradisional keluarga. Namun, Ariff menilai format itu lebih relevan untuk konsumen yang menginginkan nasi padang dalam sajian yang lebih ringan dan praktis.

Ia mengatakan Padang Wrap pertama kali diperkenalkan lewat pop-up daring pada 2021 dan kini mulai diterima oleh konsumen muda, pengunjung gym, serta pelanggan yang belum terlalu mengenal nasi padang.

“Saya membuatnya sebagai pilihan yang lebih sehat karena makanan padang biasanya kaya rasa dan beberapa hidangannya berminyak,” ujar Ariff.

Bagi Ariff, Kios Minang juga menjadi cara untuk melanjutkan tradisi keluarganya dalam menjaga budaya kuliner Indonesia, sambil tetap memberi ruang untuk berinovasi. Ia mengaku bahwa ia berupaya mempertahankan tradisi sekaligus mendorong inovasi..

“Persaingan yang sehat bisa mendorong kualitas yang lebih baik. Begitu standar terbentuk, akan ada dorongan untuk terus berbenah. Kami memang merek warisan, tetapi kami tidak boleh cepat merasa puas,” ujarnya.

Bakmi Kulon

Kulon juga ikut meramaikan lanskap kuliner Indonesia di Singapura dengan membuka gerai keduanya di New Bahru pada 1 Mei 2026. Gerai ini menjual bakmi Indonesia yang terinspirasi dari cita rasa Jawa Tengah, khususnya wilayah Semarang, yang bermakna bagi  pendiri sekaligus direkturnya, Haris Ahmad.

Haris, 30 tahun, lahir di Singapura, tetapi ibunya berasal dari Semarang. Ia mengatakan salah satu kenangan makan paling kuat saat kecil adalah menyantap bakmi bersama keluarga besar di Indonesia.

“Bagi saya, bakmi lebih dari sekadar hidangan mi. Ia merepresentasikan keluarga, nostalgia, dan hubungan saya dengan warisan Indonesia,” kata Haris.

Berangkat dari pengalaman itu, Haris melihat peluang memperkenalkan kuliner Indonesia di Singapura melampaui hidangan yang lebih populer seperti nasi padang ataupun bakmi. Kulon, gerai bakmi Indonesia yang pertama kali dibuka di Bali Lane pada 2020, kini membuka gerai kedua di New Bahru.

Salah satu pendirinya, Haris Ahmad, melihat peluang memperkenalkan kuliner Indonesia di Singapura di luar hidangan yang sudah lebih dulu populer seperti nasi padang.

Gerai tersebut menawarkan 10 varian bakmi. Salah satu menu utamanya adalah Bakmi Komplit seharga S$14,80 yang berisi mi kering ala Indonesia, ayam kecap, bakso sapi, telur kecap, kulit pangsit goreng, dan bok choy rebus.

Ada pula Bakmi Chilli Oil seharga S$10,50 yang dibuat khusus untuk gerai New Bahru. Menu ini dirancang untuk menjembatani selera konsumen Singapura yang akrab dengan mi berbasis chilli oil tanpa meninggalkan fondasi bakmi Indonesia ala Kulon.

Haris mengatakan banyak menu di Kulon dikembangkan bersama ibunya, Wati Abdul Khamid, dan terinspirasi dari resep turun-temurun keluarga.

Menurut dia, Kulon tidak berusaha mengklaim diri sebagai satu-satunya versi otentik makanan Indonesia, melainkan berupaya tetap setia pada esensi rasa Indonesia sambil menyajikannya dalam format yang relevan bagi konsumen masa kini.

Billy menilai perkembangan ini penting bukan hanya bagi bisnis makanan, tetapi juga bagi penyebaran budaya Indonesia di Singapura. Menurut dia, makanan adalah bentuk diplomasi yang paling jujur.

“Perjanjian dagang butuh waktu bertahun-tahun untuk dinegosiasikan. Rendang hanya butuh satu suap,” katanya.

Bagi para pelaku usaha, perkembangan ini menandai fase baru kuliner Indonesia di Singapura. Kuliner Indonesia tidak lagi sekadar hadir sebagai makanan rumahan diaspora, tetapi mulai diposisikan sebagai bagian dari percakapan kuliner regional yang lebih luas. (ARF)