IEA prediksi banjir pasokan minyak, harga akan turun pada 2027

Selasa, 23 Juni 2026

image

JAKARTA - Pasar minyak global berpotensi menghadapi kelebihan pasokan besar dalam beberapa tahun ke depan seiring pemulihan produksi yang berlangsung lebih cepat dibandingkan pertumbuhan permintaan.

Seperti dikutip Finance.Yahoo, dalam prospek terbarunya, International Energy Agency (IEA) memperkirakan produksi minyak dunia dapat meningkat signifikan hingga 2027, terutama setelah negara-negara Teluk mulai mengaktifkan kembali ladang minyak yang sempat berhenti beroperasi menyusul meredanya konflik terkait Iran.

IEA memperkirakan pasokan minyak global dapat bertambah sekitar 8 juta barel per hari dan mencapai sekitar 110 juta barel per hari pada 2027.

Di sisi lain, laju pertumbuhan permintaan diperkirakan jauh lebih lambat sehingga menciptakan ketidakseimbangan di pasar energi global.

Lembaga tersebut menilai kondisi itu berpotensi memicu "tonjolan yang signifikan" atau kelebihan pasokan yang besar di pasar minyak dunia.

Surplus pasokan juga diperkirakan membantu mengurangi tekanan pada persediaan minyak global sekaligus mendukung pengisian kembali cadangan strategis sejumlah negara.

Prospek tersebut muncul setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka peluang normalisasi bertahap arus pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Pasar mulai merespons perubahan tersebut. Harga minyak Brent kini bergerak di kisaran US$79 per barel, turun dari level sebelumnya yang sempat menembus US$87 per barel. Pelaku pasar menilai pasokan minyak global akan pulih lebih cepat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Selain faktor pasokan, perlambatan konsumsi energi di China turut menambah tekanan terhadap prospek harga minyak. IEA mencatat melemahnya impor minyak mentah China dan meningkatnya adopsi kendaraan listrik mengurangi laju pertumbuhan permintaan global.

Penarikan cadangan minyak domestik di China juga disebut ikut menahan momentum konsumsi. Meski demikian, normalisasi pasokan diperkirakan tidak berlangsung sepenuhnya mulus karena jalur pelayaran melalui Selat Hormuz masih beroperasi di bawah tingkat efisiensi sebelum konflik.

Di saat yang sama, sejumlah pelaku pasar mulai memangkas proyeksi harga minyak. Goldman Sachs menurunkan perkiraan harga Brent setelah melihat pemulihan arus pasokan dari kawasan Teluk berlangsung lebih cepat pasca-kesepakatan damai Iran yang dimediasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Sejak pengumuman gencatan senjata, investor juga mulai mengurangi posisi spekulatif di pasar minyak. Akibatnya, harga minyak mentah terus bergerak melemah ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir seiring meningkatnya ekspektasi normalisasi pasokan dan melambatnya pertumbuhan permintaan.

Meski harga minyak dunia turun, dampaknya belum sepenuhnya dirasakan konsumen. Patrick De Haan mengatakan banyak warga Amerika Serikat masih membayar biaya pengisian bahan bakar US$10 hingga US$25 lebih mahal dibandingkan tahun lalu, mengindikasikan penurunan harga minyak mentah belum sepenuhnya diteruskan ke tingkat ritel.(DH)