Maskapai AS raup keuntungan besar dari penurunan harga jet fuel

Selasa, 23 Juni 2026

image

NEW YORK - Maskapai penerbangan Amerika Serikat diperkirakan akan menghemat miliaran dolar dari biaya bahan bakar jet setelah kesepakatan damai antara AS dan Iran menekan harga minyak global secara tajam.

Harga minyak Brent tercatat berada di level US$79,22 per barel pada Senin pukul 06.05 waktu ET, turun hampir US$20 per barel setelah Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata serta komitmen negosiasi selama 60 hari. 

Seperti dikutip OILPRICE, pada saat yang sama, harga spot bahan bakar jet turun menjadi US$2,85 per galon dari sebelumnya US$4,88.

Penurunan ini diperkirakan dapat memangkas tagihan bahan bakar tahunan industri penerbangan AS lebih dari US$40 miliar, sehingga meringankan tekanan margin dan penurunan laba yang sebelumnya dihadapi maskapai.

Sebelumnya, International Air Transport Association (IATA) memperingatkan bahwa lonjakan biaya bahan bakar dapat memangkas setengah laba bersih industri penerbangan global pada 2026 hingga tersisa US$23 miliar.

Namun, berbeda dengan siklus penurunan harga minyak sebelumnya, maskapai diperkirakan tidak akan langsung meneruskan penghematan ini kepada penumpang dalam bentuk tarif yang lebih murah.

Menurut Raymond James, tarif rata-rata penerbangan domestik yang dipesan satu minggu sebelum keberangkatan naik 9% secara mingguan dan 34,1% dibandingkan tahun sebelumnya per 8 Juni.

Dalam siklus sebelumnya, penurunan harga minyak biasanya mendorong ekspansi kapasitas yang menekan harga tiket. 

Namun kondisi saat ini berbeda. Pertama, harga bahan bakar jet sempat naik tiga kali lebih cepat dibanding tarif tiket antara Januari hingga Mei, menambah beban sekitar US$100 miliar bagi maskapai akibat lonjakan harga minyak selama konflik Iran.

Kondisi ini membuat maskapai cenderung menggunakan penghematan untuk memperkuat neraca keuangan mereka.

Kedua, terbatasnya kapasitas bandara, keterlambatan pengiriman pesawat, serta melemahnya maskapai berbiaya rendah diperkirakan akan menahan terjadinya perang harga tiket secara luas.

Saat ini, backlog pesawat global berada di level tertinggi, dengan tingkat pengiriman sekitar 30% di bawah puncak. 

Kapasitas kursi maskapai domestik AS juga relatif stagnan, dengan proyeksi pertumbuhan hanya 0,4% secara tahunan pada kuartal ketiga, turun dari ekspektasi sebelumnya sebesar 4,6% sebelum konflik. (DK)