Hadapi China di Indo Pasifik, Amerika bentuk komando multi-domain

Selasa, 23 Juni 2026

image

JAKARTA - U.S. Army Pacific membentuk komando baru untuk memperkuat kemampuan tempur di kawasan Indo-Pasifik dengan mengintegrasikan drone, rudal jarak jauh, serta sistem intelijen dalam satu struktur operasi terpadu guna menghadapi strategi area denial milik China.

Komando baru bernama Multi Domain Command Pacific, ini menggabungkan kemampuan Stryker Brigade Combat Teams dari 7th Infantry Division dengan unit 1st Multi-Domain Task Force, termasuk kemampuan serangan presisi jarak jauh, pertahanan udara, dan intelijen.

“Divisi kami akan menggunakan kemampuan seperti kapal permukaan tanpa awak, drone serang satu arah jarak jauh, dan serangan yang diluncurkan untuk menembus jaringan anti-akses/penolakan wilayah musuh,” kata Maj. Gen. Bernard Harrington dalam upacara penetapan komando tersebut, Kamis waktu setempat, seperti dikutip USNI.

Formasi berbasis di Washington ini menjadi ujung tombak modernisasi militer darat AS di kawasan Indo-Pasifik, dengan fokus pada mobilitas tinggi dan kemampuan serangan presisi jarak jauh. Unit ini juga mulai mengoperasikan unmanned surface vessels serta drone serang sekali pakai (one-way attack drones).

Menurut Harrington, komando ini akan memimpin pengembangan konsep Cross Domain Contact Layer, yang memungkinkan unit tersebar untuk mendeteksi, menargetkan, dan menghancurkan pasukan lawan di dalam jaringan pertahanan musuh.

Komando tersebut akan menggunakan kecerdasan buatan untuk mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memproses perintah bagi pasukan, katanya.

China diketahui telah membangun sistem anti-access/area-denial (A2/AD) yang luas untuk membatasi pergerakan militer AS, termasuk rudal anti-kapal, rudal balistik, hingga hipersonik yang memperkuat kekuatan angkatan laut dan udara Beijing.

Beijing telah berinvestasi besar-besaran dalam jaringan penyangkalan, yang dirancang untuk melawan kekuatan konvensional militer AS.

Di antara tantangan paling mendesak yang dihadapi pasukan Amerika yang ditempatkan di sepanjang rantai pulau pertama dan kedua adalah persenjataan rudal anti-kapal jelajah, balistik, dan hipersonik China yang sangat besar.

Dalam skenario konflik potensial di kawasan, termasuk kemungkinan invasi Taiwan, kemampuan serangan jarak jauh China dinilai menjadi tantangan utama bagi militer AS.

Setiap potensi konflik antara AS dan Tiongkok, seperti invasi Taiwan, harus menghadapi kemampuan serangan jarak jauh yang luas dari Tentara Pembebasan Rakyat.

Untuk mengatasinya, U.S. Army mengembangkan konsep operasi yang bertujuan “melumpuhkan” kemampuan musuh sejak awal dengan memutus rantai komando dan deteksi.

Sebuah pengarahan pada Simposium dan Pameran Angkatan Darat Pasifik 2026 bulan lalu dari wakil komandan Komando Multi-Domain Pasifik menjelaskan bahwa formasi tersebut akan menjadi "pasukan pelindung" untuk unit-unit Amerika dan sekutu.

"(Komando Multi-Domain) bersifat mandiri dan beroperasi secara independen dari badan utama, mengembangkan situasi, mencegah pengamatan musuh dan mencegah musuh mengarahkan tembakan tidak langsung," demikian bunyi siaran pers dari dinas tersebut. (DH)