China punya senjata baru untuk jadi penyeimbang harga minyak dunia

Selasa, 23 Juni 2026

image

TIONGKOK - Selama puluhan tahun, Arab Saudi dikenal sebagai "swing exporter" atau eksportir penyeimbang di pasar minyak global karena mampu menaikkan atau menurunkan produksi untuk meredam gejolak pasokan. 

Namun, di sisi permintaan, dunia belum pernah memiliki negara yang berperan sebagai penyeimbang konsumsi minyak.

Situasi itu berubah setelah perang Iran pada 2026. 

China kini muncul sebagai "swing importer" pertama di dunia, yakni importir yang mampu mengurangi atau meningkatkan pembelian minyak dalam jumlah besar sehingga memengaruhi stabilitas harga energi global.

Seperti dikutip TheBusinessTimes, dampak perubahan ini dinilai jauh melampaui konflik Timur Tengah terbaru. 

Kemampuan Beijing mengelola konsumsi energi berpotensi mengubah peta pasar energi dunia sekaligus dinamika geopolitik Asia.

Jika embargo minyak negara-negara Arab pada 1973 melahirkan istilah "senjata minyak Arab", maka perang AS-Israel terhadap Iran pada 2026 memunculkan konsep baru yang disebut sebagai "senjata minyak China". 

Sebagian analis bahkan menyebutnya lebih tepat sebagai "perisai minyak China" karena dapat digunakan Beijing untuk menghadapi tekanan geopolitik di masa depan.

Data bea cukai China menunjukkan total impor minyak negara itu, termasuk melalui pipa dan jalur kereta api, turun menjadi 7,8 juta barel per hari pada Mei 2026, level terendah dalam delapan tahun terakhir. 

Angka tersebut sekitar sepertiga lebih rendah dibandingkan sebelum perang pecah.

Impor minyak yang datang melalui kapal tanker bahkan anjlok lebih dalam hingga mencapai level terendah dalam satu dekade, atau lebih dari 45% di bawah rata-rata sepanjang 2025.

Penurunan impor minyak China dalam satu bulan setara dengan total konsumsi minyak gabungan Jerman, Prancis, dan Inggris. Menariknya, pengurangan drastis tersebut tidak terlihat menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan.

Meski mekanisme yang digunakan Beijing belum sepenuhnya diketahui, sejumlah faktor diyakini berperan. 

China selama dua dekade terakhir telah memperkuat ketahanan energinya melalui pengembangan energi surya dan angin, peningkatan penggunaan kendaraan listrik, serta pemanfaatan batu bara sebagai sumber energi utama.

Selain itu, Beijing membangun cadangan minyak strategis terbesar di dunia. Pada akhir 2025, China diperkirakan memiliki sekitar 1,4 miliar barel cadangan minyak, tiga kali lebih besar dibandingkan cadangan strategis Amerika Serikat dan lebih dari enam kali lipat cadangan Jepang.

Selama krisis pasokan akibat gangguan di Selat Hormuz, berbagai instrumen tersebut digunakan secara bersamaan. Penggunaan kendaraan listrik meningkat tajam pada April dan Mei, dengan aktivitas pengisian daya di jalan tol China melonjak 50% hingga 80% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Produksi listrik berbasis batu bara juga mencapai rekor musiman tertinggi pada April. Sementara itu, industri batu bara-ke-kimia membantu menjaga pasokan produk penting seperti pupuk ketika bahan baku konvensional mengalami gangguan.

Sejumlah analis memperkirakan pemerintah China juga mulai memanfaatkan cadangan minyak strategisnya. 

Diperkirakan antara 100 juta hingga 200 juta barel minyak telah dilepas dari cadangan nasional selama periode pertengahan April hingga pertengahan Juni.

Perubahan ini memiliki implikasi besar bagi pasar energi global. 

Kemampuan China meredam gangguan pasokan dalam skala besar berpotensi menurunkan premi risiko geopolitik yang selama ini melekat pada harga minyak.

Dampaknya bahkan lebih luas dalam aspek keamanan dan militer. 

Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat menilai ketergantungan China terhadap impor energi yang melewati Selat Malaka sebagai titik lemah strategis yang dapat dimanfaatkan apabila terjadi konflik terkait Taiwan.

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan China jauh lebih tahan terhadap ancaman blokade energi dibandingkan perkiraan sebelumnya. 

Hal tersebut menandai perubahan besar dalam keseimbangan geopolitik kawasan.

Jika selama lebih dari dua dekade China menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak dunia karena tingginya kebutuhan energi, kini negara itu justru mulai berperan sebagai penstabil pasar.

Hasilnya terlihat selama krisis terbaru di Selat Hormuz. 

Harga minyak memang naik, tetapi tidak melonjak setinggi yang dikhawatirkan pasar. Tekanan inflasi tetap terkendali, pasar tenaga kerja global terus tumbuh, dan pasar saham AS tetap menguat.

Bagi pasar energi global, kondisi tersebut menjadi tonggak sejarah baru. 

Untuk pertama kalinya, gangguan besar terhadap jalur pasokan minyak dunia tidak berkembang menjadi krisis energi global, sebagian karena kemampuan China mengelola konsumsi dan cadangan energinya secara agresif. (DK)