Valuasi saham IPO SUPA 11 kali lipat di atas rata-rata bank digital
Rabu, 10 Desember 2025

JAKARTA – PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) telah memulai masa Penawaran Umum Perdana atau Initial Public Offering (IPO) saham pada 10 hingga 15 Desember 2025.
Usai melalui periode penawaran awal pada 25 November sampai 1 Desember 2025 kemarin, bank digital milik Grup Emtek dan Grab ini memutuskan saham IPO ditawarkan pada harga Rp635 per lembar.
Harga tersebut di tengah rentang harga yang diumumkan oleh SUPA saat periode penawaran awal atau bookbuilding, yaituRp525-695 per lembar.
Seperti disampaikan IDNFinancials.com sebelumnya, SUPA hanya berpotensi meraup tambahan modal Rp2,79 triliun dari IPO, dengan harga penawaran tersebut.
Manajemen SUPA menyampaikan harga penawaran itu mencerminkan Price-to-Earnings Ratio (PER) 456,56x berdasarkan laba 12 bulan terakhir per 30 Juni 2025. Selain itu, harga penawaran ini juga mencerminkan Price-to-Book Value (PBV) 3,51x semester pertama tahun ini.
Berikut ini PER bank digital berdasarkan laba 12 bulan terakhir per 30 Juni 2025, serta PBV semester pertama 2025:
Meskipun PER dan PBV SUPA jauh di atas rata-rata industri, manajemen tetap menyebut valuasi perusahaan cukup menarik. “Dengan mempertimbangkan ekosistem yang dimiliki perseroan,” jelas Manajemen SUPA, dalam prospektus yang disampaikan.
Sementara itu CEO Sucor Sekuritas, Bernardus Wijaya, mengatakan saham bank digital memang biasanya diperdagangkan dengan harga premium, karena memiliki ekspektasi pertumbuhan tinggi.
“Ini memberi peluang bagi investor yang ingin masuk lebih awal sebelum valuasinya menyesuaikan dengan kinerja dan ekspansi,” jelas Bernardus, dalam keterangan resmi yang beredar di media massa.
Di sisi lain, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah Budiman, mengatakan SUPA merupakan tipikal fast-growing company. “Dia punya potensi pertumbuhan yang lebih kencang,” kata Fath, dalam pemaparan yang disampaikan Selasa (9/12) kemarin.
Dengan rencana penggunaan dana IPO untuk penyaluran kredit dan pengembangan teknologi, imbuh Fath, SUPA akan memiliki ekosistem yang lebih kuat—terutama didukung Grab dan Emtek.
“Seharusnya valuasi premium ini masih bisa terjustifikasi dengan prospek yang ada,” jelas Fath.
Meskipun demikian, Fath mengingatkan agar investor juga bersiap dengan segala skenario yang mungkin terjadi setelah SUPA mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), terutama jika terjadi penurunan harga saham. (KR)