Tren emas 2025: Anomali hingga harga tinggi yang hambat investasi

Sabtu, 15 November 2025

image

JAKARTA – Emas menjadi primadona di berbagai belahan dunia di tahun 2025, diburu oleh investor retail hingga bank dunia, termasuk emas batangan dan ETF emas.

Dianggap sebagai aset lindung inflasi, harga emas sudah meroket 794,5% dalam dua dekade terakhir, dan kerap naik di masa krisis, dari era minyak 1970-an, krisis 1998 dan 2008, hingga pandemi COVID-19.

Namun, ini tak berarti emas kebal dari fluktuasi harga.

Misalnya, tren bullish sejak 2005 sempat patah pada 2011 dan ambles sekitar 25% pada 2013, seiring meredanya quantitative easing oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar.

Setelah 2013, harga emas stagnan di kisaran US$1.000–1.400, lalu naik saat pandemi 2019–2020, sebelum kembali datar pada 2021–2022.

Shaokai Fan, Head of Asia Pacific ex China World Gold Council, menekankan bahwa meskipun bergerak fluktuatif, emas tetap menjadi aset safe haven, yang nilainya meningkat di tengah krisis global.

“Seberapa lama emas bertahan di harga tinggi tersebut umumnya merefleksikan seberapa besar risiko yang dihasilkan dari krisis tersebut,” jelas Shaokai, di Jakarta, Rabu (12/11).

-

Anomali tren emas 2025

Menariknya, lonjakan emas dalam tiga tahun terakhir ini terjadi tanpa pemicu tunggal.

Namun, pasca-COVID-19, dunia memang terus dihantam berbagai konflik geopolitik, termasuk ketegangan AS–China akibat perang tarif, sehingga melahirkan ketidakpastian yang konstan.

“Kali ini, tidak ada krisis finansial yang spesifik, namun harga emas melonjak sangat tinggi. Saya rasa, [lonjakan] kali ini lebih mencerminkan kecemasan global,” imbuh Shaokai.

-

Harga tinggi jadi hambatan investasi?

Harga emas pasar spot (XAU) sudah meroket sekitar 111,6% sejak 2023 – jauh melampaui kenaikan 2015–2020 yang hanya 23,9%.

Meskipun harga XAU ambles 2,2% hari ini, Sabtu (15/11), harganya masih di atas US$4.000 per troi ons atau US$4.079, naik 55% sejak awal tahun.

Di Indonesia, harga logam mulia Antam juga melesat 55% sejak awal tahun ke Rp2,3 juta per gram (15/11).

Lonjakan harga emas ini menghasilkan imbal tinggi bagi investor jangka panjang, tetapi juga menjadi hambatan bagi masyarakat untuk menambah atau mulai berinvestasi.

Survei World Gold Council (WGC) terhadap 2.000 responden menunjukkan 78% sudah memiliki emas, sedangkan 22% belum pernah berinvestasi.

Beberapa responden mengaku belum menambah porsi emas dalam setahun terakhir, umumnya karena harga meningkat tajam.

“Termasuk tidak memiliki cukup uang untuk berinvestasi (emas) dalam 12 bulan terakhir, atau harganya tidak terjangkau,” tambah Shaokai.

Peningkatan harga emas juga menyulitkan 22% populasi yang belum mulai membeli emas, karena mereka tidak tahu kapan harus masuk di tengah tren harga yang melonjak.

-

Prospek investasi di saham emas

Di sisi lain, pergerakan harga emas ini juga memberikan pengaruh pada emiten-emiten produsen dan distributor emas, baik dari segi kinerja keuangan maupun saham.

Misalnya, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencatatakan pertumbuhan yang signifikan pada lini bisnis bullion dan gadai emasnya.

Harga beberapa saham emiten penambangan dan perdagangan emas, seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), hingga PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) juga tercatat melonjak tajam sejak awal tahun.

Emiten

Kenaikan (year-to-date)

ANTM

96,8%

BRMS

142,55

PSAB

135,7%

ARCI

418,4%

HRTA

316,2%

Tidak ada yang dapat memprediksi kapan emas akan memasuki fase konsolidasi setelah lonjakan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir ini.

Namun, menurut Shaokai, permintaan emas global masih kuat, bahkan dalam beberapa tahun ke depan, baik dari bank sentral dunia, maupun investor retail.

“Saya pikir alasan utama mengapa mereka berinvestasi di emas tidak akan berubah, setidaknya di waktu dekat ini,” pungkasnya. (ZH)