Impor aluminium scrap China tembus 526 ribu ton di awal 2026
Selasa, 23 Juni 2026
JAKARTA - Ketergantungan China terhadap pasokan aluminium scrap dari luar negeri terus meningkat seiring lonjakan impor bahan baku daur ulang tersebut pada kuartal pertama 2026.
Seperti dikutip dari AlCircle, data International Trade Administration menunjukkan China mengimpor 526.380 ton aluminium scrap sepanjang Januari-Maret 2026, naik 3,92% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 506.546 ton.
Secara tahunan, impor aluminium scrap China mencapai 2,02 juta ton pada 2025, melonjak 13,48% dibandingkan 1,78 juta ton pada 2024.
Thailand, Uni Eropa, dan Inggris menjadi tiga pemasok utama aluminium scrap bagi China sepanjang 2025. Ketiga wilayah tersebut menyumbang lebih dari separuh total impor aluminium scrap negara itu.
Thailand masih mempertahankan posisinya sebagai pemasok terbesar aluminium scrap ke China sejak 2025. Namun, pengiriman dari negara tersebut pada kuartal pertama 2026 mengalami penurunan.
Volume ekspor aluminium scrap Thailand ke China tercatat 110.810 ton dengan nilai US$276,8 juta pada Januari-Maret 2026, turun 16,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, secara tahunan Thailand masih mencatat pertumbuhan signifikan. Sepanjang 2025, negara tersebut mengirimkan 470.698 ton aluminium scrap senilai sekitar US$1 miliar ke China, melonjak 57,82% dibandingkan 298.243 ton pada 2024.
Di posisi kedua, Uni Eropa memperkuat perannya sebagai pemasok utama aluminium scrap ke China setelah sebelumnya menjadi pemasok terbesar pada 2023 dan 2024.
Pada kuartal pertama 2026, ekspor aluminium scrap Uni Eropa ke China mencapai 101.814 ton dengan nilai US$254,6 juta, meningkat 30,47% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sepanjang 2025, volume pengiriman aluminium scrap dari Uni Eropa ke China mencapai 348.607 ton dengan nilai US$772 juta, naik 16,83% dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut menunjukkan semakin pentingnya peran Uni Eropa dalam rantai pasok bahan baku daur ulang bagi industri aluminium China.
Sementara itu, Inggris menempati posisi ketiga sebagai pemasok terbesar aluminium scrap ke China pada 2025.
Pada kuartal pertama 2026, volume ekspor aluminium scrap Inggris ke China mencapai 69.157 ton dengan nilai US$169,8 juta, meningkat 13,75% secara tahunan.
Secara kumulatif sepanjang 2025, Inggris mengirimkan 245.313 ton aluminium scrap senilai US$541,9 juta ke China. Angka tersebut meningkat 26,69% dibandingkan volume ekspor pada 2024 yang mencapai 193.638 ton.(DH)