Masa depan harga minyak diprediksi bergantung pada Tiongkok

Selasa, 23 Juni 2026

image

LONDON - Di tengah upaya Amerika Serikat dan Iran membuka kembali Selat Hormuz secara permanen serta memulihkan arus pasokan minyak dari Timur Tengah, arah harga minyak global ke depannya dinilai akan sangat ditentukan oleh Tiongkok. 

Dikutip dari CNN, Tiongkok yang merupakan konsumen minyak mentah terbesar kedua di dunia dinilai berhasil meredam dampak perang Iran terhadap pasokan energi dengan menekan impor, mengandalkan cadangan minyak dalam jumlah besar, serta memperluas penggunaan energi terbarukan..

Sejumlah analis menilai peran Tiongkok menjadi salah satu alasan utama harga minyak tidak melonjak setinggi yang sempat dikhawatirkan pasar, meski perang di Iran memangkas akses terhadap lebih dari 11 juta barel minyak per hari.

Brent crude pada Senin (22/6) turun ke bawah US$78 per barel di tengah ekspektasi bahwa perdagangan melalui Selat Hormuz, jalur bagi sekitar seperlima aliran minyak dunia, akan segera kembali normal.

Sebelum serangan AS dan Israel ke Iran, Brent sempat diperdagangkan di bawah US$70 per barel, lalu menyentuh level tertinggi dalam empat tahun di US$114 per barel pada awal Mei 2026.

Menurut lembaga riset energi Ember, Tiongkok memiliki peran penting dalam menahan guncangan harga minyak  bagi Asia dan ekonomi global.

Dalam catatan riset Analis Societe Generale pada awal bulan ini, disebutkan bahwa  Tiongkok adalah “tangan tak terlihat” yang membantu menyeimbangkan pasar.

Mereka menilai kemampuan Tiongkok dalam memangkas impor minyak hingga sekitar 3 juta barel per hari merupakan faktor penting di balik relatif tertahannya lonjakan harga minyak selama perang Iran.

Tiongkok disebut mampu menekan konsumsi karena sebelumnya telah membangun cadangan minyak mentah, didukung oleh pasokan murah dari Rusia dan Iran yang terkena sanksi Amerika Serikat. Menurut para analis, negara tersebut kini memiliki lebih dari 1 miliar barel minyak dalam cadangan komersial dan strategis, yang sudah dimanfaatkan sejak Mei 2026..

Selain itu, pemerintah Tiongkok juga membatasi ekspor produk olahan seperti solar dan bensin untuk menjaga ketersediaan pasokan domestik. Kebijakan ini mengurangi insentif bagi kilang Tiongkok untuk membeli minyak mentah dari pasar global.

Di saat yang sama, lonjakan permintaan kendaraan listrik di Tiongkok turut menekan kebutuhan bahan bakar fosil. Saat ini, satu dari dua mobil penumpang baru yang terjual di Tiongkok merupakan kendaraan dengan energi terbarukan. International Energy Agency (IEA), memperkirakan armada kendaraan listrik Tiongkok telah mengurangi konsumsi minyak sekitar 1 juta barel per hari pada tahun lalu.

Setelah berbulan-bulan pasar dihantui ancaman krisis minyak terburuk dalam sejarah, IEA kini justru memperingatkan pembukaan kembali Selat Hormuz bisa memicu kelebihan pasokan minyak di tahun depan.

Dalam laporan bulanannya yang dirilis Rabu (17/6), IEA memperkirakan pertumbuhan pasokan minyak global pada 2027 akan melampaui pertumbuhan permintaan sebesar 4,7 juta barel per hari, seiringan dengan produksi minyak Timur Tengah yang akan kembali normal.

Platform intelijen komoditas Kpler bahkan menilai kelebihan pasokan bisa mulai terlihat secepat bulan depan jika Selat Hormuz dibuka kembali dalam waktu dekat. Dalam skenario itu, sekitar 100 juta barel minyak yang sebelumnya tertahan berpotensi kembali masuk ke pasar.

Di sisi lain, Iran juga diperkirakan akan agresif meningkatkan produksinya, terutama jika sanksi Amerika Serikat dicabut. Namun, langkah itu juga bisa membuat minyak Iran menjadi kurang menarik bagi Tiongkok, yang selama ini membeli minyak Iran dengan harga diskon.

Analis Kpler Muyu Xu menilai banyak negara sebenarnya sudah memenuhi kebutuhan minyak mentah untuk musim panas, sehingga keseimbangan pasar sekali lagi bisa bergantung pada Tiongkok.

“Sekarang negara yang punya kemampuan menyerap kelebihan pasokan adalah Tiongkok. Masalahnya, apakah Tiongkok masih ingin membeli?” katanya. (ARF)