Harga emas turun 1,5% ditekan dolar AS dan prospek kenaikan suku bunga
Selasa, 23 Juni 2026
LONDON - Harga emas turun sekitar 1,5% pada Selasa (23/6), ditekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun ini. Hal ini juga terjadi di tengah perhatian investor terhadap perkembangan negosiasi damai antara AS dan Iran.
Dikutip dari Investing.com, harga emas spot turun 1,55% ke US$4.126,45 per ons pada pukul 06.42 ET. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS melemah 1,63% ke US$4.142,10.
Pada sesi sebelumnya, logam mulia tersebut sempat naik 0,7% didorong optimisme atas perundingan damai AS-Iran.
Indeks dolar AS bertahan di dekat level tertinggi 13 bulan yang disentuh pekan lalu, didorong sikap Federal Reserve yang kian hawkish pada rapat pertamanya di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.
Meski bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%, proyeksi terbaru menunjukkan dukungan yang makin besar di kalangan pejabat The Fed untuk menaikkan suku bunga setidaknya satu kali sebelum akhir tahun.
Pasar futures kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember sekitar 90%. Bahkan, sebagian investor mulai melihat kemungkinan lebih dari satu kali kenaikan, seiring fokus The Fed yang tetap tertuju pada risiko inflasi.
Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Di saat yang sama, suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas karena logam ini tidak memberikan imbal hasil.
Perhatian investor juga tertuju pada upaya diplomatik antara Washington dan Teheran. AS telah memberikan keringanan sanksi selama 60 hari untuk sebagian penjualan minyak Iran setelah pembicaraan awal di Swiss, sementara pejabat AS menggambarkan perundingan tersebut sebagai konstruktif.
Meski emas secara tradisional dipandang sebagai aset aman saat gejolak geopolitik meningkat, investor kini juga menaruh perhatian pada dampak inflasi dari konflik Iran.
Perang tersebut sempat mendorong harga minyak melonjak tajam pada awal tahun, memicu kekhawatiran bahwa inflasi yang dipicu energi dapat memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Investor juga menunggu data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pada Kamis (25/6). Data tersebut merupakan indikator inflasi pilihan The Fed.
Di kelompok logam mulia lainnya, harga perak turun 4,3% ke US$62,29 per ons, sementara platinum melemah 2,6% ke US$1.639,60 per ons.
Sementara itu, kontrak tembaga acuan di London Metal Exchange turun 1,2% ke US$13.486,33 per ton. Kontrak tembaga AS juga melemah 2,3% ke US$6,22 per pon. (ARF)