Wall Street tertekan saham AI, futures Nasdaq anjlok lebih dari 2%
Selasa, 23 Juni 2026
NEW YORK - Futures Nasdaq jatuh lebih dari 2% pada Selasa (23/6), memimpin pelemahan bursa berjangka Wall Street di tengah kekhawatiran investor terhadap prospek kenaikan suku bunga AS dan besarnya belanja AI perusahaan teknologi.
Dikutip dari Reuters, tekanan juga terjadi di pasar saham global, termasuk Eropa dan Asia, setelah aksi jual di Wall Street pada sesi sebelumnya. Harga minyak mentah dan logam mulia juga ikut melemah.
Pelemahan saham-saham AI di Amerika Serikat diperkirakan masih akan berlanjut, seiring dengan kekhawatiran investor terhadap valuasi yang sudah terlalu tinggi di tengah biaya pinjaman yang tetap mahal. Kondisi itu dinilai dapat membuat belanja AI semakin membebani perusahaan.
Saham-saham kapitalisasi besar tertekan dalam perdagangan pra-pembukaan, dengan Nvidia dan Alphabet masing-masing turun hampir 3%. Sementara itu, saham produsen chip seperti Intel, Marvell Technology, dan Advanced Micro Devices (AMD) anjlok pada kisaran 5,5% hingga 7,5%.
Saham SpaceX milik Elon Musk juga turun sebesar 4,5% setelah perusahaan itu menjadi emiten raksasa terbaru yang masuk ke pasar obligasi usai IPO besar di awal bulan ini, meski sebelumnya melaporkan rugi bersih pada tahun lalu.
Analis senior Swissquote Bank, Ipek Ozkardeskaya, menilai langkah SpaceX mencari pendanaan lewat obligasi untuk membiayai belanja AI dan infrastruktur kembali memunculkan kekhawatiran lama bahwa perusahaan teknologi besar menganggarkan terlalu banyak dana untuk AI dan semakin mengandalkan utang untuk membiayainya.
Pada pukul 04.39 waktu setempat, kontrak berjangka Dow Jones turun 318 poin atau 0,61%, kontrak berjangka S&P 500 melemah 109,25 poin atau 1,45%, sementara kontrak berjangka Nasdaq 100 merosot 824,25 poin atau 2,69%.
Kontrak berjangka Russell 2000 yang sensitif terhadap suku bunga juga turun di 1,7%. Di saat yang sama, indeks volatilitas CBOE atau VIX yang kerap disebut sebagai indikator ketakutan Wall Street naik 2,84 poin ke level 20,12, tertinggi dalam lebih dari sepekan.
Pelaku pasar kini memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuandengan total 50 basis poin hingga Desember 2026.
Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group. Proyeksi itu naik dari perkiraan kenaikan 25 basis poin pada dua pekan lalu, seiring pasar mulai mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih hawkish di bawah Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun sempat turun sekitar 4 basis poin ke angka 4,19%, setelah pada sesi sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak Februari 2025.
Kekhawatiran terhadap tingginya valuasi saham-saham AI kembali mencuat setelah reli kuat pada kuartal ini pasca-gencatan senjata di Timur Tengah. Pada Senin (22/6), saham-saham chip sebenarnya sempat menguat dan mendorong Philadelphia SE Semiconductor Index ke rekor tertinggi. Namun, hasil keuangan Micron yang akan dirilis Rabu (24/6) dipandang dapat memberi petunjuk baru soal prospek sektor chip memori dan AI.
Saham Micron sendiri jatuh 8,6%, sementara Sandisk dan Western Digital masing-masing turun sekitar 9,6% dan 6,6%.
Investor juga masih menyoroti perkembangan di Timur Tengah setelah Amerika Serikat menangguhkan sanksi terhadap Iran selama 60 hari usai putaran pertama perundingan dalam kesepakatan damai awal. Presiden AS Donald Trump mengatakan akan “melakukan apa yang perlu dilakukan” jika Iran tidak mematuhi bagiannya dalam kesepakatan tersebut.
Belakangan pada hari yang sama, perhatian pasar akan tertuju pada serangkaian survei aktivitas bisnis swasta untuk Juni, menjelang rilis indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Jumat. Indeks yang menjadi acuan inflasi pilihan The Fed itu diperkirakan naik ke sekitar 4,1%, lebih dari dua kali lipat target bank sentral AS. (ARF)