Minyak melemah usai jatuh tajam, pasar pantau negosiasi AS-Iran
Selasa, 23 Juni 2026
LONDON - Harga minyak bergerak terbatas pada Selasa (23/6) setelah anjlok hampir 3% pada sesi sebelumnya, seiring pasar menilai dampak kemajuan dari negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran serta pelonggaran sementara sanksi terhadap ekspor minyak mentah Iran.
Dikutip dari Investing.com, pada pukul 09.39 waktu AS, kontrak Brent untuk pengiriman Agustus 2026 turun 0,3% ke US$77,70 per barel, sedangkan kontrak West Texas Intermediate (WTI) bergerak datar di US$73,92 per barel.
Pelemahan harga ini mengikuti aksi jual tajam sehari sebelumnya setelah muncul sinyal bahwa risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah akan semakin mereda.
Sentimen pasar membaik setelah Washington menerbitkan lisensi umum selama 60 hari yang mengizinkan penjualan, pengiriman, dan impor minyak mentah serta produk minyak Iran sebagai bagian dari negosiasi yang sedang berlangsung dengan Teheran.
Langkah tersebut diambil setelah pejabat AS dan Iran melaporkan kemajuan menuju kesepakatan damai yang lebih luas, termasuk perpanjangan draf gencatan senjata sementara.
Pelonggaran sanksi itu juga mencakup layanan perbankan, asuransi, dan pengiriman terkait, sehingga memunculkan ekspektasi bahwa ekspor Iran dapat meningkat dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi ini berpotensi menambah pasokan global seiring dengan kekhawatiran terhadap gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz mulai mereda.
Analis ING menilai Iran sebelumnya memang sudah mulai meningkatkan ekspor setelah blokade AS dicabut. Menurut mereka, keringanan sanksi terbaru akan membuka lebih banyak akses pasar bagi Iran untuk menjual minyaknya, termasuk ke Amerika Serikat.
Pejabat Iran pada Senin (22/6) juga menyebut perundingan terbaru menghasilkan “kemajuan besar”. Sejumlah laporan media menyebut Teheran telah memperoleh pelonggaran untuk ekspor minyak dan petrokimia sambil melanjutkan pembahasan menuju kesepakatan final yang ditargetkan tercapai dalam 60 hari.
Prospek kembalinya tambahan pasokan minyak Iran ke pasar sejauh ini lebih dominan dibandingkan risiko geopolitik yang masih tersisa.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak di atas US$120 per barel pada puncak konflik ketika pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu. Namun, membaiknya kondisi pelayaran dan momentum diplomatik membuat pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko yang sebelumnya tercermin dalam harga minyak.
ING menilai ketidakpastian utama ke depan tetap terletak pada seberapa cepat arus minyak melalui Selat Hormuz dapat kembali normal. (ARF)