Christine Lagarde sorot pelemahan yuan, China kritik balik Eropa

Rabu, 24 Juni 2026

image

BEIJING - Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Christine Lagarde, mendorong pembahasan global mengenai dugaan nilai tukar yuan yang terlalu rendah, namun pandangan itu ditolak oleh pakar Tiongkok yang menilai tudingan tersebut tidak berdasar dan justru mencerminkan upaya Eropa mengalihkan isu ekonominya sendiri.

Dikutip dari Global Times, Lagarde pada Senin (22/6) waktu setempat meminta para pemimpin dunia membahas apa yang ia sebut sebagai undervaluation yuan sebagai bagian dari ketidakseimbangan yang membahayakan ekonomi global.

Komentar Lagarde muncul setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz menyerukan pembicaraan internasional mengenai nilai tukar sebagai bagian dari upaya Uni Eropa merespons defisit dagang yang makin besar dengan Tiongkok.

Dalam beberapa bulan terakhir, politisi dan lembaga Barat kembali menyoroti nilai tukar yuan. Pada Februari lalu, lembaga perencanaan strategis Prancis, Haut-Commissariat à la Stratégie et au Plan (HCSP), merilis laporan yang menyebut yuan undervalued sekitar 20% hingga 25% dan menilai kondisi itu ikut memberi Tiongkok keunggulan biaya.

Direktur Center for China-Europe Relations di Institute of International Studies, Fudan University, Jian Junbo, menilai pernyataan Lagarde mencerminkan kegelisahan sebagian kalangan di Eropa atas menurunnya daya saing di industri mereka.

Menurut Jian, upaya mengaitkan nilai tukar yuan dengan daya saing ekspor Tiongkok dan ketimpangan perdagangan merupakan pendekatan yang keliru. Ia menegaskan nilai tukar dibentuk oleh mekanisme pasar dan bukan instrumen kebijakan yang bisa diubah sesuka hati.

Bank sentral Tiongkok sebelumnya juga berulang kali membantah tudingan bahwa Beijing sengaja melemahkan yuan demi memperoleh keuntungan dagang.

People’s Bank of China (PBOC) menyatakan bahwa pergerakan jangka pendek nilai tukar yuan ditentukan oleh kekuatan pasar, sementara arah jangka panjangnya ditopang fundamental ekonomi.

Gubernur PBOC, Pan Gongsheng, juga menegaskan dalam China Development Forum 2026 bahwa Tiongkok tidak memiliki kebutuhan maupun niat untuk mencari keuntungan perdagangan melalui depresiasi mata uang.

Ia menyebut posisi bank sentral tetap konsisten, yakni memberi peran menentukan kepada pasar dalam pembentukan nilai tukar, menjaga fleksibilitas kurs, serta mempertahankan yuan pada level yang wajar dan seimbang.

Jian menilai persoalan yang dihadapi Eropa saat ini lebih banyak bersumber dari masalah struktural domestik, seperti investasi yang kurang memadai dan lambatnya peningkatan daya saing industri, bukan dari kebijakan nilai tukar Tiongkok.

Menurut dia, upaya Uni Eropa menyalahkan Tiongkok atas kesulitan ekonominya justru kontraproduktif dan tidak akan memperkuat daya saing Eropa maupun hubungan ekonom antara Tiongkok dan Uni Eropa. (ARF)