CSRA pastikan operasional kebun sawit normal usai banjir Sumatera

Rabu, 10 Desember 2025

image

JAKARTA - Direksi PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) angkat bicara terkait keberadaan perkebunan kelapa sawit dan pabrik pengolahan yang berada di wilayah Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.

Direktur CSRA, Seman Sendjaja, mengakui bahwa fasilitas yang dikelola anak usaha perseroan turut terdampak banjir. Namun ia menegaskan dampaknya tidak signifikan.

“Banjir hanya mengenai sebagian kecil area kebun terluar dan tidak menimbulkan kerusakan berarti,” ujarnya dalam keterbukaan informasi, Rabu (10/12).

Seman juga memastikan bahwa operasional kebun dan pabrik sudah kembali normal sejak 2 Desember 2025. Dengan demikian, banjir tersebut tidak memengaruhi aset produksi maupun karyawan.

Anak usaha CSRA yang mengelola lahan itu, kata Seman, memiliki Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU) dan menyumbang pendapatan hingga Rp681,1 miliar per November 2025.

Sebelumnya, banjir melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada awal Desember 2025.

Peristiwa ini merendam permukiman serta area perkebunan, menutup akses jalan di beberapa titik, dan mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk sektor kelapa sawit yang menjadi penopang utama produksi di kawasan tersebut.

Pada perdagangan Rabu (10/12) hari ini, harga saham CSRA turun 1,11% ke level Rp890. Namun dalam lima hari terakhir, harga saham emiten perkebunan ini naik tipis 0,56% dan melonjak 7,23% dalam sebulan.

Dari segi kinerja keuangan, CSRA membukukan laba bersih sebesar Rp213,9 miliar hingga September 2025, tumbuh 70,6% dibandingkan periode serupa tahun lalu yang mencapai Rp125 miliar. Peningkatan laba ini sejalan dengan kinerja penjualan yang mencapai Rp1,33 triliun, naik 76% secara tahunan dari Rp758 miliar. (DK/KR)