China tekan Sanae Takaichi, batasi ekspor mineral kritis ke Jepang

Rabu, 24 Juni 2026

image

TIONGKOK - China dilaporkan memperketat pengiriman sejumlah mineral kritis ke Jepang, langkah yang menekan industri manufaktur dan meningkatkan tekanan politik terhadap Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk mencari jalur diplomasi dengan Beijing.

Seperti dikutip TheStraitsTimes, sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, China disebut telah menghentikan hampir seluruh pasokan beberapa bentuk tungsten pada 2026.

Pengiriman magnet juga turun pada Mei ke level terendah sejak 2025, setelah sebelumnya anjlok ketika Beijing memperluas kebijakan kontrol ekspor mineral strategis.

Kebijakan pembatasan ini muncul setelah ketegangan diplomatik meningkat, dipicu oleh pernyataan Takaichi terkait Taiwan pada November.

Meski demikian, langkah China dinilai lebih terarah dan terbatas dibandingkan embargo besar terhadap Jepang pada 2010, dengan tujuan memberi tekanan tanpa memicu respons keras dari Amerika Serikat.

Dampaknya mulai terasa di sektor industri Jepang. Perusahaan harus mengandalkan cadangan stok dan mencari alternatif pasokan. Pelaku industri menyebut pembatasan ini berpotensi mengganggu sektor manufaktur, khususnya otomotif yang menyumbang sekitar 10% PDB Jepang.

Sejumlah komoditas terdampak mencakup tungsten, yttrium, serta beberapa unsur tanah jarang seperti dysprosium dan terbium yang penting untuk produksi magnet berperforma tinggi di kendaraan listrik, perangkat elektronik, hingga peralatan militer.

Beberapa kategori ekspor bahkan tercatat nol pengiriman sepanjang 2026, sementara pasokan lainnya menurun tajam. 

Meski begitu, sebagian material olahan masih tetap mengalir, meski dalam jumlah lebih kecil.

Di sisi lain, Jepang mempercepat upaya diversifikasi pasokan dengan mengurangi ketergantungan pada China. 

Pemerintah dan industri mendorong daur ulang material, pengembangan teknologi alternatif, serta kerja sama internasional untuk mengamankan rantai pasok mineral strategis.

Perusahaan seperti Sumitomo Electric dan Mitsubishi Materials mulai meningkatkan penggunaan bahan daur ulang untuk mengurangi risiko gangguan pasokan, sebagai bagian dari strategi jangka panjang yang telah dimulai sejak krisis mineral 2010.

Ketegangan diplomatik kedua negara juga memburuk, dengan hampir terhentinya komunikasi tingkat tinggi pada 2026. 

Meski demikian, kedua pihak masih membuka peluang dialog di forum internasional, meskipun belum ada kepastian pertemuan bilateral antara pemimpin mereka.

China sendiri tetap menjadi pemain dominan dalam rantai pasok global tanah jarang, baik dari sisi produksi tambang, pengolahan, hingga manufaktur magnet permanen yang digunakan dalam berbagai teknologi modern, termasuk kendaraan listrik dan peralatan militer. (DK)