Saham emiten ini diperdagangkan besok, ada milik Lim Hariyanto

Rabu, 10 Desember 2025

image

JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka suspensi perdagangan saham enam emiten mulai sesi I, Kamis (11/12) setelah disuspensi sejak kemarin hingga Rabu (10/12). Hal itu disampaikan Yulianto Aji Sadono, Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI dalam keterbukaan informasi.

Saham enam emiten tersebut yakni;

  • PT Personel Alih Daya Tbk (PADA)
  • PT Nusa Raya Cipta Tbk. (NRCA)
  • PT Trimitra Prawara Goldland Tbk (ATAP)
  • PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH)
  • PT Intraco Penta Tbk (INTA)
  • PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT)

Saham dari sejumlah emiten tersebut menguat bervariasi sehari sebelum disuspensi oleh BEI.

Saham emiten PADA menguat Rp22 menjadi Rp200 per saham pada penutupan transaksi perdagangan sesi II, Jumat (28/11). Volume perdagangan 480,17 juta dalam 28.975 kali senilai Rp97,64 miliar.

Jumlah sahamnya tercatat 3,15 miliar per November 2025 dengan struktur pemilik saham Pengendali 50,86% dan Nonpengendali 40,14%. Penerima manfaat akhir dari kepemilikan saham yakni, anggota Koperasi Pegawai PT Indosat Tbk (ISAT).

Saham NRCA naik Rp230 menjadi Rp1.790 pada penutupan transaksi sesi II, Kamis (27/11). Volume saham diperjualbelikan 199,17 juta dalam 39.745 kali transaksi senilai Rp356,16 miliar.

Emiten ini mencatatkan 2,49 miliar saham per November 2025 dengan kepemilikan saham Pengendali 63,94% dan Nonpengendali 36,05%. Penerima manfaat akhir dari kepemilikan saham yakni, pemegang saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA).

Saham ATAP menguat Rp16 menjadi Rp177 pada penutupan perdagangan sesi II, Jumat (21/11). Volume saham ditransaksikan 1,71 juta dalam 102 kali senilai Rp303,30 juta.

Jumlah sahamnya sebanyak 1,25 miliar per Oktober 2025, dengan kepemilikan saham Pengendali 80% dan Nonpengendali 20%. Penerima manfaat akhir dari saham emiten ini yakni, Indriati dan Yoyo Sugeng Triyogo.

Sementara itu, saham DOOH naik Rp12 menjadi Rp288 pada penutupan perdagangan sesi II, Selasa (9/12). Jumlah saham diperdagangkan 588,13 juta dalam 33.874 kali senilai Rp169,52 miliar.

Jumlah sahamnya tercatat 7,73 miliar lemar per November 2025, dengan struktur pemilik saham Pengendali 70,615% dan Nonpengendali 29,385%. Penerima manfaat akhir dari kepemilikan saham yakni, Faysal Deni Rahman.

Harga saham INTA naik Rp9 menjadi Rp105 per lembar pada penutupan perdagangan kemarin (9/12). Jumlah saham diperjualbelikan 24,02 juta dalm 345 kali senilai Rp2,52 miliar. Jumlah saham tercatat 3,34 miliar per Oktober 2025, dengan struktur pemegang saham pengendali 20,34% dan Nonpengendali 79,66%.

Untuk harga saham TIRT naik Rp9 menjadi Rp106 per lembar pada penutupan perdagangan sesi II, kemarin (9/12). Volume perdagangan 1,46 juta dalam 64 kali transaksi senilai Rp154, 88 juta.

Jumlah sahamnya sebanyak 1,01 miliar per November 2025 dengan pemilik saham Pengendali 73,54% dan Nonpengendali 26,46%. Penerima manfaat akhir dari kepemilikan saham yakni, Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, pendiri Harita Group. (LK)