China kuasai superkomputer TOP500, AS pertahankan dominasi AI

Rabu, 24 Juni 2026

image

JAKARTA - China berhasil merebut posisi puncak dalam peringkat superkomputer tercepat dunia TOP500, menggeser Amerika Serikat melalui sistem LineShine yang beroperasi di Shenzhen, namun keunggulan tersebut dinilai belum mencerminkan dominasi di sektor kecerdasan buatan (AI).

Seperti dikutip Reuters, LineShine, yang dikembangkan di National Supercomputing Centre Shenzhen dengan chip rancangan domestik, menjadi sistem pertama dari China yang kembali menduduki posisi teratas dalam tiga tahun terakhir.

Dalam pemeringkatan TOP500 edisi Juni 2026, LineShine berhasil mengungguli El Capitan milik Amerika Serikat yang beroperasi di Lawrence Livermore National Laboratory dan digunakan untuk mendukung pengelolaan senjata nuklir AS.

Namun para pakar teknologi menilai hasil tersebut tidak otomatis menunjukkan keunggulan China dalam komputasi AI, mengingat metode pengujian TOP500 lebih merepresentasikan beban komputasi tradisional dibanding workload AI modern.

Namun, para ahli teknologi dan kebijakan yang diwawancarai Reuters mengatakan bahwa hasil tersebut tidak berarti China memiliki komputer tercepat di dunia untuk pekerjaan AI karena perubahan dalam industri komputasi dalam beberapa tahun terakhir dan metode yang digunakan untuk menyusun daftar tersebut.

LineShine berada di peringkat keempat dalam uji benchmark yang dirancang untuk mensimulasikan pekerjaan komputasi yang lebih mirip dengan AI.

Perubahan lanskap industri juga dipicu oleh meningkatnya dominasi perusahaan cloud global seperti Microsoft, Amazon, dan Google yang membangun sistem komputasi skala besar khusus untuk AI, namun tidak banyak berpartisipasi dalam pemeringkatan TOP500.

“Sebagian besar perusahaan tersebut tidak memilih untuk bersaing memperebutkan tempat di daftar TOP500. Sebuah studi tahun lalu oleh para peneliti kebijakan AI Konstantin Pilz, James Sanders, Robi Rahman, dan Lennart Heim menemukan bahwa sistem Colossus milik xAI yang dimiliki SpaceX kemungkinan sudah lebih canggih daripada El Capitan milik pemerintah AS.”

Sejumlah analis menilai posisi puncak China lebih mencerminkan upaya untuk menunjukkan kemandirian teknologi, khususnya dalam desain chip domestik, di tengah ketatnya pembatasan ekspor teknologi dari Amerika Serikat.

Kemenangan China dalam daftar tersebut kemungkinan besar menunjukkan bahwa China menginginkan pengakuan atas upaya desain chip-nya, yang merupakan perubahan dari tahun-tahun sebelumnya, kata para ahli.

China sendiri sebelumnya sempat mendominasi daftar TOP500 pada 2010 dan beberapa tahun setelahnya, sebelum akhirnya berhenti mengajukan sistemnya sejak 2023 akibat ketegangan kebijakan pembatasan chip antara Beijing dan Washington.

Sementara itu, para analis menilai langkah China kembali berpartisipasi dalam pemeringkatan ini juga menjadi sinyal politik dan teknologi di tengah persaingan kedua negara.

“Saya tidak terkejut bahwa ini adalah sistem nomor satu. Yang mengejutkan saya adalah mereka mengajukannya dan menginginkan pengakuan untuk itu,” kata Addison Snell, CEO Intersect360 Research, sebuah perusahaan yang berfokus pada superkomputer.

Di sisi lain, keterbatasan penggunaan chip AI canggih dalam sistem LineShine juga menjadi sorotan, karena sebagian besar teknologi tersebut masih berada di bawah kontrol ekspor AS.

"China berharap dapat meyakinkan dunia bahwa kontrol ekspor tidak berguna dengan berharap kita mengabaikan detailnya,” kata Goodrich.(DH)