Sentimen MSCI tak cukup dorong rupiah menjauhi Rp18.000/US$
Rabu, 24 Juni 2026
JAKARTA – Sentimen positif dari keputusan MSCI menunda peninjauan klasifikasi pasar saham Indonesia hingga November 2026, dinilai turut menahan rupiah di bawah level psikologis Rp18.000/US$.
Analis senior MUFG untuk mata uang Asia, Michael Wan, menilai keputusan pengelola indeks global itu sebagai “kabar baik bagi rupiah, meski dampaknya hanya bersifat marginal.”
Seperti disampaikan IDNFinancials.com sebelumnya, MSCI mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market, namun akan terus memantau konsistensi reformasi pasar hingga tinjauan indeks November 2026, serta tetap membuka kemungkinan konsultasi reklasifikasi Indonesia ke Frontier Market.
Oleh sebab itu, Wan menilai penguatan rupiah berikutnya membutuhkan katalis yang lebih kuat.
“Rupiah dinilai membutuhkan dukungan berupa komitmen yang lebih terhadap keberlanjutan fiskal, serta kepastian kebijakan agar kinerjanya lebih baik,” jelas Wan, dalam catatan yang disampaikan kepada investor pada Rabu (24/6).
Hingga pukul 13.00 WIB, nilai tukar rupiah melemah 0,5% atau 89 poin ke Rp17.948/US$ menurut data Bloomberg. Hal ini menambah pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak awal tahun menjadi 7,63%.
Sementara di kawasan Asia dan Eropa, dolar AS cenderung menguat terhadap sejumlah pasangan mata uang. Euro melemah di bawah 1,14/US$ dan yen Jepang masih berada di kisaran 162/US$.
Pelemahan ini terjadi setelah pasar saham Asia pada perdagangan Selasa menghadapi tekanan signifikan, dengan indeks KOSPI yang turun sekitar 10% akibat amblesnya saham-saham terkait chip AI.
MUFG menilai pergerakan mata uang Asia, termasuk rupiah, dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh arah dolar AS, prospek pertumbuhan ekonomi kawasan, serta keberlanjutan siklus industri elektronik global.
“Dari perspektif nilai tukar dan suku bunga di Asia, faktor yang tak kalah penting adalah prospek pertumbuhan ekonomi dan ekspor antarnegara, termasuk apakah sentimen terhadap siklus industri elektronik masih akan tetap kuat ke depan,” imbuh Wan. (KR)