Airlangga ungkap strategi RI hadapi risiko geopolitik dan el nino
Rabu, 24 Juni 2026
JAKARTA - Pemerintah menilai terciptanya perdamaian dalam berbagai konflik geopolitik global, termasuk di Timur Tengah, akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian dunia sekaligus mendukung stabilitas ekonomi Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perdamaian dapat memperbaiki prospek ekonomi global dan memperlancar rantai pasok yang selama ini terganggu akibat konflik.
“Perdamaian selalu membuat hasil positif terhadap global outlook, terhadap perekonomian global. Dan yang kedua juga akan memperbaiki supply chain. Jadi dua hal itu sangat berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia. Tapi yang jelas perdamaian itu kontribusinya positif terhadap perekonomian,” ujar Airlangga dalam program Top Economy Metro TV bertajuk “Pesan Penting Nakhoda Tim Ekonomi” di Jakarta, Selasa (23/6).
Menurut Airlangga, ketidakpastian akibat konflik geopolitik membuat pasar global semakin sulit diprediksi sehingga investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan menjaga likuiditas.
Namun, kawasan Indo-Pasifik dinilai masih menjadi tujuan investasi yang menarik karena didukung pertumbuhan ekonomi ASEAN yang tetap berada di atas 4% serta stabilitas kawasan.
Di tengah ketidakpastian global, sejumlah kawasan ekonomi khusus (KEK) di Indonesia juga mencatat tingkat keterisian yang tinggi dan mendorong rencana ekspansi sebagai bagian dari realignment rantai pasok global.
Pemerintah, lanjut Airlangga, terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.
Upaya tersebut dilakukan dengan memantau kondisi likuiditas pasar, dana pihak ketiga perbankan, serta penyaluran kredit guna menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Selain itu, pemerintah memperluas akses pasar dan investasi melalui berbagai kerja sama ekonomi internasional.
Salah satunya melalui proses aksesi Indonesia ke Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang diharapkan dapat meningkatkan daya saing ekonomi nasional dan memperkuat kepercayaan investor.
Indonesia juga melanjutkan berbagai perundingan strategis, termasuk Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) dan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Melalui IEU-CEPA, produk manufaktur Indonesia berpeluang memperoleh akses yang lebih kompetitif ke pasar Uni Eropa dengan penghapusan tarif masuk yang saat ini masih berada pada kisaran 10-20%.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada semester II/2026, pemerintah telah menyiapkan paket stimulus senilai Rp26,34 triliun yang terdiri atas stimulus transportasi dan pariwisata sebesar Rp2,04 triliun, program magang dan vokasi Rp6,26 triliun, serta bantuan pangan Rp18,04 triliun.
Dalam menghadapi risiko global, pemerintah juga memperkuat strategi diversifikasi sumber energi dan bahan baku guna mengurangi ketergantungan pada satu negara atau kawasan tertentu.
Saat ini, ketergantungan impor minyak Indonesia dari Timur Tengah tercatat sekitar 20%, sementara alternatif pasokan tersedia dari berbagai negara lain, termasuk kawasan Afrika.
Pemerintah juga mengantisipasi potensi dampak El Nino terhadap ketahanan pangan nasional melalui peningkatan produksi pertanian dan program pompanisasi guna menjaga ketersediaan air di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.
Airlangga menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan memiliki daya tahan yang baik di tengah berbagai tantangan global yang terjadi saat ini. (DK)