Kisah L3Harris kebut modifikasi jet Qatar untuk Air Force One

Rabu, 24 Juni 2026

image

WASHINGTON - L3Harris telah  menyelesaikan modifikasi Boeing 747 hadiah dari Qatar menjadi Air Force One baru dalam waktu 10 bulan. Pesawat tersebut kini dijadwalkan untuk mulai digunakan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Juli 2026.

Dikutip dari BreakingDefense, pesawat baru tersebut diserahkan pekan lalu setelah L3Harris mengejar tenggat 4 Juli 2026, yang sebelumnya ditetapkan oleh Trump. Presiden AS itu menerima pesawat hadiah dari Qatar dalam seremoni di Joint Base Andrews, Maryland, pada Jumat (20/6), di tengah kritik dari anggota parlemen yang menilai pesawat tersebut berpotensi menimbulkan celah keamanan dan persoalan etika.

Trump mengatakan pesawat itu akan memimpin atraksi terbang pesawat militer pada perayaan Hari Kemerdekaan AS, 4 Juli mendatang, di Washington.

Jason Lambert, Presiden Divisi Pengintaian, Pengawasan, dan Intelijen 3Harris, Jason Lambert, mengatakan bahwa perusahaan mengerahkan sekitar 400 karyawan yang bekerja 24 jam sehari untuk menyelesaikan modifikasi pesawat hanya dalam waktu 10 bulan. Biasanya, proses modifikasi seperti itu dapat memakan waktu beberapa tahun.

Menurut Lambert, percepatan itu dilakukan melalui koordinasi intensif dengan Angkatan Udara AS agar modifikasi tetap memenuhi kebutuhan misi presiden tanpa mengorbankan jadwal pengiriman.

Angkatan Udara AS menyebut kehadiran pesawat baru ini akan membantu mengurangi tekanan pada dua pesawat VC-25A lama yang saat ini bergantian menjalankan fungsi Air Force One. Kedua pesawat itu menghadapi siklus perawatan panjang, sementara penggantinya, dua VC-25B baru,saat ini masih tertunda akibat masalah teknis dan kendala tenaga kerja. Jadwal penggantiannya pun mundur dari 2024 menjadi pertengahan 2028.

Secara umum, pesawat kepresidenan AS dilengkapi sistem peperangan elektronik, perangkat pertahanan, serta perlindungan terhadap efek gangguan elektromagnetik nuklir. Namun, tenggat modifikasi yang sangat singkat membuat fitur peningkatan pada pesawat hadiah Qatar tersebut harus disederhanakan.

Lambert mengonfirmasi bahwa L3Harris memasang sistem komunikasi aman yang terhubung ke jaringan rahasia maupun nonrahasia, serta memodifikasi interior pesawat. Di dalam kabin, pesawat dilengkapi segel kepresidenan AS serta furnitur baru berbahan kayu dan kulit. Namun, perubahan besar seperti memindahkan sekat atau struktur tetap di dalam pesawat dihindari agar tenggat pengiriman bisa dipenuhi.

Skema cat pesawat juga diubah menjadi merah, putih, dan biru, menggantikan warna biru muda ikonik yang digunakan sejak era Presiden John F. Kennedy. Lambert mengatakan rancangan cat, termasuk bendera di ekor pesawat, harus mendapat persetujuan langsung dari Trump sebelum pengerjaan dapat dimulai.

Lambert tidak merinci modifikasi apa saja yang ditambahkan atau dikurangi untuk meningkatkan daya tahan pesawat, tetapi menegaskan pesawat tersebut siap menjalankan misi sebagai Air Force One.

Ia juga mengatakan pesawat hadiah dari luar negeri itu telah menjalani inspeksi ketat oleh para ahli keamanan dan siber AS untuk memastikan tidak ada alat penyadap atau perangkat elektronik berbahaya yang disisipkan sebelum pesawat tiba di Amerika Serikat.

Setelah diserahkan, pesawat akan memasuki tahap penerbangan komisioning awal. Dalam fase ini, Gedung Putih akan memverifikasi kemampuan pesawat dalam memenuhi target misi dan merampungkan protokol yang berkaitan dengan pengangkutan presiden.

Menteri Angkatan Udara AS, Troy Meink, mengatakan bahwa keselamatan dan keamanan presiden menjadi prioritas utama dalam percepatan proyek tersebut. Menurut dia, setiap persyaratan dievaluasi secara cermat agar pengiriman bisa dipercepat tanpa mengorbankan kualitas, keamanan, dan keandalan pesawat.

Angkatan Udara AS menambahkan bahwa pelatihan pilot dan teknisi pesawat ini telah dimulai sejak Oktober 2025, awalnya menggunakan pesawat sewaan Atlas Air 747-8F dan kemudian beralih ke 747-8i yang dibeli dari Lufthansa. L3Harris juga menyerahkan replika interior pesawat dalam format 3D agar personel Gedung Putih dapat mempelajari tata letak kabin sebelum penerbangan perdananya. (ARF)